DPR Usir Dirut Krakatau Steel! Begini Kata Adian Napitulu Dan Kegeraman Komisaris KSI

Laporan: Samsudin
Senin, 14 Februari 2022 | 16:35 WIB
RDP Komisi VII DPR dengan Krakatau Steel, Senin (14/2).
RDP Komisi VII DPR dengan Krakatau Steel, Senin (14/2).

SinPo.id - Anggota Komisi VII rupanya tak sepaham terkait insiden pengusiran Dirut PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim, dari rapat Komisi VII DPR saat pembahasan soal blast furnace, Senin (14/2).

Adian Napitupulu yang meminta izin berbicara pada rapat tersebut mengatakan, DPR memiliki mekanisme persidangan dan etika saat sidang. Sehingga tidak harus serta merta mengeluarkan siapa yang diundang saat rapat.

“Karena kenapa? Karena kita memiliki kepentingan yang cukup besar,” tandasnya.

Ia lantas mengatakan, dirinya tertarik mengikuti rapat ini sejak awal karena baginya, impor baja itu bukan persoalan uang saja. Tapi di dalamnya ada persoalan kadaulatan negara, ada persoalan lain membuka pekerjaan lebih besar untuk rakyat kita sendiri.

“Kalau menurut saya, melihat kepentingan rapat ini yang lebih besar, saya berharap rapat ini rehat sejenak,” tandas Adian.

“Bagaimana kalau rapat dipending sebentar? Pimpinan bisa berkomunikasi dulu terbatas, karena kenapa pimpinan, sebentar lagi kita reses. Kalau reses, berarti pembahasan soal baja impor ini pada rapat selanjutnya, dan itu akan tertunda sebulan lagi,” katanya.

Menjawab Adian, Bambang mengatakan bahwa komisi VII sudah dua kali memanggil Dirut KS. Namun dua kali pula dia mangkir.

“Beliau mangkir. Tidak ada kejelasan,” jawab Bambang.

“Maraknya impor baja belakangan ini, ini salah satu yang kita ingin urai. Namun, pemain-pemain baja ini hanya menjadi trader. Dan Krakau Steel ini salah satu trader di situ,” tutur Bambang.

Komisaris KSI Berang Pimpinan Komisi VII

Sementara itu, Komisaris Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI) Roy Maningkas berang terhadap Pimpinan Komisi VII Bambang Hariyadi.

Roy menyinggung pimpinan rapat Komis VII DPR Bambang Haryadi tidak tahu terkait capaian Krakatau Steel beberapa tahun belakangan ini. Dia lantas membeberkan capaian tersebut.

"Bambang Haryadi itu hanya tahu sedikit soal transformasi Krakatau Steel, apa perubahan dan pencapaian yang dicapai oleh manajemen Krakatau Steel 3 tahun belakangan, yang dari 8 tahunan rugi sekarang sudah 2 tahun terakhir profit," kata Roy kepada wartawan, Senin (14/2).

"Sebagai anggota Dewan, harusnya bijak bicara, jangan asal bicara. Coba kalau Pak Bambang yang terhormat yang jalanin Krakatau Steel. Saya mau lihat bisa berhasil atau tidak?" lanjutnya.

Roy kemudian menjelaskan dirinyalah yang meminta Menteri BUMN menghentikan produksi blast furnace. Menurutnya, jika produksi blast furnace diteruskan, Krakatau Steel akan terus merugi.

"Saya orang yang meminta Menteri BUMN waktu itu dan manajemen untuk berhentikan produksi blast furnace karena kalau diteruskan Krakatau Steel akan potensi rugi Rp 1,1-1,3 triliun setahun. Tapi kementerian BUMN yang lama waktu itu tetap memaksa jalan, jadi kebijakan manajemen untuk menghentikan blast furnace sudah benar, menyelamatkan uang negara triliunan rupiah," ucapnya.

Roy lantas menyoroti sebutan 'maling teriak maling' yang diungkap Bambang. Dia menilai sebutan tanpa bukti itu mencemarkan nama baik Krakatau Steel.

"Pak Bambang juga menyebutkan maling teriak maling tanpa bukti juga, bukan hanya nggak etis, tapi juga melakukan pencemaran nama baik pada orang-orang yang sudah bekerja keras memperbaiki Krakatau Steel dan alhamdulillah mulai kelihatan berhasil," ucapnya.

Lebih lanjut Roy menilai tudingan Bambang 'maling teriak maling' itu salah sasaran. Dia mengatakan blast furnace itu ada sebelum manajemen Dirut Silmy. Roy lantas heran kenapa manajemen saat ini yang disudutkan.

"Pak Bambang ini harusnya bijak-bijak bicaranya sebagai politisi dan panutan rakyat. Sekali lagi, jangan sembarang bicara. Tahu nggak siapa dan kapan proyek blast furnace? Itu dimulai sekitar 2012-2013, jauh sebelum manajemen di bawah Pak Silmy masuk. Pak Silmy masuk sudah jadi, justru itu yang saya dan komisaris minta jangan berproduksi, justru manajemen sekarang cuci piring kok malah bilang maling teriak maling?" ucapnya.

"Sekadar informasi, proyek blast furnace ini dari yang awalnya anggaran cuma Rp 6 triliun, jadi lebih dari Rp 10 triliun itu sebelum manajemen sekarang memimpin. Tapi saya kira mereka nggak cari kambing hitam, tetap lakukan banyak perubahan perusahaan, termasuk efisiensi yang melebihi 20-25 persen dan lakukan penjualan yang meningkat. Ketika saya masuk jadi komisaris Krakatau Steel tahun 2015, Krakatau Steel itu ruginya kurang lebih Rp 3 triliun lebih, sekarang sudah 2 tahun berturut-turut profit, dan tahun 2021 mungkin kurang lebih Rp 1-1,5 triliun, kok bilang maling teriak maling," tandas Roy.

BERITALAINNYA