ESDM: Sektor Transportasi Terbesar Konsumsi BBM Nasional, Capai 276,6 Juta Barel

SinPo.id - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, transportasi merupakan sektor paling banyak mengkonsumsi bahar bakar minyak (BBM) secara nasional, bahkan menyentuh angka 52 persen. Kemudian disusul sektor industri 180,9 juta barel (34 persen), ketenagaliatrikan 42, 5 juta barel (8 persen), dan sektor penerbangan atau aviasi 31, 9 juta barel (6 persen) dari konsumsi secara nasional
"Yang terbesar penggunaan BBM adalah untuk transportasi sebanyak 276,6 juta barel atau 52 persen dari konsumsi nasional," kata Yuliot dalam acara Rakernas Aspebindo, di Jakarta, Kamis, 27 Februari 2025.
Yuliot merangkan, untuk neraca minyak Indonesia pada 2024 produksi minyak nasional totalnya sebesar 212 juta barel, sementara konsumsi BBM di dalam negeri mencapai 532 juta barel.
"Untuk kekurangannya kita harus mengimpor minyak sebanyak 313 juta barel," ucapnya.
Adapun konsumsi minyak Indonesia sendiri adalah sebesar 1,6 juta barel per hari. Sedangkan produksi hingga akhir 2024 saja sekitar 580 ribu barel per hari.
"Jadi sehingga kita masih perlu mengimpor kekurangan minyak bumi sekitar 1 juta barel oil per day," ucapnya.
Kendati demikian, pemerintah terus melakukan transisi energi untuk mengurangi ketergantungan impor. Pemerintah, lanjut Yuliot, memanfaatkan sumber daya yang ada diantaranya penggunaan biodisel. Pada tahun 2025 ini Indonesia sudah masuk B40 dan juga tahun depan kita usahakan menjadi B50.
Berikutnya, pemerintah juga melakukan transisi menggunakan kendaraan listrik, bahan bakar nabati yang saat ini potensi penghematan BBM sebesar 75,2 juta kilo liter. Langkah ini sebagai upaya menciptakan ketahanan energi nasional.
"Kita juga mengembangkan energi baru terbarukan. Jadi akan ada pengembangan sebesar 75 gigawatt listrik ke depan termasuk nanti akan mengembangkan transmisi untuk menghubungkan dari perusahan produksi listrik ke daerah-daerah yang menjadi bagian pengguna listrik, baik bagi masyarakat maupun industri," paparnya.
Untuk peningkatan produksi minyak dalam negeri, sambung Yuliot, ada beberapa hal yang dilakukan pemerintah, seperti optimalisasi produksi dengan penggunaan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR). Sementara terkait reaktifasi sumur idle, juga akan dilakukan percepatan-percepatan, dengan melibatkan pelaku UMKM, koperasi dan juga perusahaan-perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
Lebih jauh, Yuliot menerangkan, pemerintah juga akan melakukan eksplorasi potensi migas di kawasan timur Indonesia. ESDM mencatat, Indonesia memiliki mencapai 128 cekungan minyak. Dan, yang baru diusahakan eksplorasinya sekitar 20 cekungan.
"Jadi kita masih memiliki potensi sebesar 108 cekungan. Dengan cekungan-cekungan yang ada untuk kedepan ya seharusnya ketahanan energi kita bisa dilakukan dengan upaya peningkatan produksi dari upaya yang dilakukan ini," tuturnya.
Untuk langkah strategis berikutnya adalah reaktifasi idle well. Berdasarkan identifikasi Kementerian ESDM, ditemukan sebanyak 39. 669 sumur, dengan status sumur aktif baru 19. 380.
"Dan sumur idle itu uumlahny adalah 6.402. Jadi untuk penggunaan teknologi nanti akan kita lihat. Justru potensi kerja sama itu adalah untuk sumur idle yang jumlahnya 6.402 ini, kami sudah melakukan pemilahan-pemilahan, mudah-mudahan dengan potensi yang ada bagaimana keterlibatan dari anggota ASPEBINDO dalam rangka meningkatkan ketersedian energi di dalam negeri," tukasnya.
PERISTIWA 15 hours ago
PERISTIWA 1 day ago
OLAHRAGA 4 hours ago
POLITIK 2 days ago
PERISTIWA 2 days ago
HUKUM 1 day ago