SIDANG VONIS SYL

Massa Pendukung Rusuh Usai Sidang Vonis SYL, Kamera Wartawan Rusak

Laporan: david
Kamis, 11 Juli 2024 | 15:30 WIB
Massa pendukung SYL di PN Tipikor (SinPo.id/ David)
Massa pendukung SYL di PN Tipikor (SinPo.id/ David)

SinPo.id - Kericuhan terjadi usai sidang putusan mantan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis, 11 Juli 2024.

Berdasarkan pantauan SinPo.id, kericuhan mulai terjadi pada saat SYL hendak ke luar dari ruang sidang. Puluhan pendukung menghampiri SYL hingga menghalangi awak media yang ingin mengambil gambar.

Akibatnya, awak media yang sedang bekerja untuk mengabadikan momen dan ingin meminta keterangan harus berdesak-desakan. Aksi dorong-dorongan dengan massa pendukung SYL pun tak terhindari.

Kerusuhan pun terjadi antara wartawan yang sedang bekerja dengan pendukung SYL. Tak sedikit wartawan yang didorong oleh pendukung SYL dan aparat keamanan.

Akibat kerusuhan tersebut kamera dari wartawan Kompas TV dan TV One rusak. Selain itu, banyak alat-alat peliputan wartawan yang terinjak-injak. Sementara, SYL dibawa kembali memasuki ruang sidang.

Untuk diketahui, SYL dihukum pidana penjara selama 10 tahun dan denda sebesar Rp300 juta subsider empat bulan kurungan oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat.

Hakim menyatakan SYL telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum melakukan tindak pidana korupsi berupa pemerasan dan penerimaan gratifikasi secara bersama-sama di lingkungan Kementerian Pertanian.

"Mengadili, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Syahrul Yasin Limpo oleh karena itu dengan pidana penjara selama 10 tahun dan denda sejumlah 300 juta," kata ketua majelis hakim Rianto Adam Pontoh di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Kamis 11 Juli 2024.

Selain pidana badan, SYL juga dihukum untuk membayar uang pengganti sebesar Rp14.140.140.786 atau Rp14,1 miliar dan 30.000 dolar Amerika dalam waktu satu bulan setelah setelah putusan berkekuatan hukum tetap.

"Jika tidak membayar, maka harta bendanya akan disita dan dilelang oleh jaksa untuk menutupi uang pengganti tersebut. Dengan ketentuan apabila terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi, maka dipidana dengan pidana penjara selama 2 tahun," ucap hakim.

Adapun hukuman itu lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yakni 12 tahun penjara dan denda sebesar Rp500 juta, serta membayar uang pengganti Rp44,7 miliar.

Selain SYL, dua terdakwa lainnya, yakni mantan Sekjen Kementan, Kasdi Subagyono dan mantan Direktur Alat dan Mesin Pertanian, Muhammad Hatta juga menghadapi sidang pembacaan putusan pada hari ini. 

Dalam perkara ini, jaksa KPK mendakwa SYL memeras anak buahnya dan menerima gratifikasi senilai Rp 44,5 miliar. Perbuatan itu dilakukan SYL bersama Kasdi Subagyono dan Muhammad Hatta. 

Jaksa mendakwa uang puluhan miliar dari hasil gratifikasi dan pemerasan di Kementan dipergunakan untuk kepentingan pribadi SYL serta keluarganya.

Beberapa di antaranya untuk kado undangan, Partai Nasdem, acara keagamaan, charter pesawat, bantuan bencana alam, keperluan ke luar negeri, umrah, dan kurban.

Selain kasus pemerasan dan gratifikasi, SYL juga dijerat KPK dalam kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang saat ini masih dalam proses penyidikan. Dalam kasus itu, KPK menduga SYL menyembunyikan atau menyamarkan hasil korupsi di Kementan.sinpo

Komentar: