'Taksi Terbang' akan Diuji Coba selama Olimpiade Paris

Oleh: VOA Indonesia
Kamis, 13 Juni 2024 | 07:45 WIB
Taksi terbang "Volocopter 2X" dipamerkan di Paris Air Show (SinPo.id/AP)
Taksi terbang "Volocopter 2X" dipamerkan di Paris Air Show (SinPo.id/AP)

SinPo.id - Menteri transportasi Prancis pada Rabu, 12 Juni 2024, mengatakan bahwa apa yang disebut "taksi terbang" - pesawat tak berawak futuristik berukuran besar yang mampu mengangkut beberapa orang - akan diizinkan untuk digunakan sebagai uji coba selama Olimpiade Paris.

"Kita akan bereksperimen dengan hal ini untuk pertama kalinya di dunia selama Olimpiade. Ini adalah sebuah kemajuan teknologi yang bisa bermanfaat," kata Patrice Vergriete kepada surat kabar Le Parisien.

Namun ia juga memupuskan harapan para penggemar olahraga yang berharap dapat memadati Kota Cahaya untuk mencapai tujuan mereka pada bulan Juli dan Agustus, dengan mengatakan bahwa persyaratan otorisasi akan dibatasi dan tidak termasuk penggunaan oleh masyarakat umum.

"Saya tidak suka dengan sebutan 'taksi terbang' seperti julukannya" tambahnya sebelum menjelaskan kemungkinan peran kendaraan 18 rotor yang menyerupai helikopter kecil itu.

Dia mengatakan bahwa kendaraan ini "bisa berguna sebagai ambulans di masa depan, jadi mari kita bersikap pragmatis. Mari kita analisis dampaknya dan lakukan analisis biaya-manfaat".

"Akan ada beberapa penerbangan uji coba selama Olimpiade. Jika kami melihat bahwa alat transportasi ini tidak efektif dan terlalu berisik, maka kami akan menarik kesimpulan," tambah Vergriete.

"Taksi terbang" dulunya merupakan tema utama film fiksi ilmiah, namun kini secara teori menjadi kenyataan. Produsen menghadapi hambatan regulasi dan keamanan di seluruh dunia yang telah menghalangi peluncurannya.

'Greenwashing'?

Produsen Jerman, Volocopter, telah melakukan uji coba penerbangan di wilayah Paris selama beberapa tahun untuk pesawat VoloCity berkapasitas dua tempat duduk dan telah melakukan lobi gencar untuk memmperoleh izin dari pihak berwenang Eropa sebelum Olimpiade.

Perusahaan ini telah bermitra dengan operator bandara Prancis, ADP, operator metro dan bus ibu kota RATP, dan pemerintah daerah Paris.

Empat zona pendaratan dan lepas landas telah dibangun di sekitar ibu kota, termasuk di bandara Charles de Gaulle dan lapangan terbang Le Bourget yang lebih kecil, di samping platform terapung baru di sungai Seine di Paris barat.

Selain hambatan regulasi, Volocopter masih belum meyakinkan pihak berwenang Prancis tentang kredensial lingkungan atau utilitasnya sebagai solusi transportasi rendah karbon bertenaga baterai.

Para anggota dewan lokal di Paris telah memberikan suara dengan suara bulat menentang konsep tersebut.

"Ini adalah greenwashing dalam bentuknya yang paling murni, moda transportasi yang dibuat untuk orang kaya yang terburu-buru karena hanya ada satu tempat untuk penumpang," kata wakil walikota Paris, Dan Lert, dari Partai Hijau Prancis kepada AFP.

Sebuah petisi yang menuntut pelarangan telah mengumpulkan sekitar 15.000 tanda tangan dan sebuah kelompok bernama "Taksi Terbang, Tidak, Terima Kasih" telah menyerukan sebuah demonstrasi pada tanggal 21 Juni.

Volocopter mengatakan telah menginvestasikan sekitar 600 juta euro ($ 650 juta) dan grup ini hampir bangkrut awal tahun ini. Volocopter bulan lalu mengatakan menargetkan sertifikasi dari Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) "pada musim gugur".

Dengan kecepatan udara maksimum 110 kilometer (68 mil) per jam, VoloCity memiliki ruang untuk pilot dan penumpang.

Sebagai informasi, Olimpiade Paris berlangsung dari 26 Juli-11 Agustus, disusul Paralimpiade dari 28 Agustus-8 September. sinpo

Komentar: