Kebakaran di Jakarta Dipicu Pembakaran Sampah dan Puntung Rokok

Laporan: Khaerul Anam
Minggu, 08 Oktober 2023 | 09:15 WIB
Ilustrasi (Sinpo.id/Gettyimages)
Ilustrasi (Sinpo.id/Gettyimages)

SinPo.id -  Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta mengungkap adanya tren peningkatan kebakaran yang disebabkan aktivitas pembakaran sampah dan puntung rokok.

Kepala Dinas Gulkarmat DKI, Satriadi Gunawan mencatat, sebanyak 556 kasus kebakaran terjadi sepanjang Agustus-September 2023 atau selama berlangsungnya fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. 

Satriadi memaparkan, ada beberapa faktor penyebab terjadinya kebakaran di DKI Jakarta, diantaranya karena listrik sebanyak 225 kasus, membakar sampah 143 kasus, rokok 53 kasus, gas 32 kasus, dan lainnya 100 kasus. 

"Penggunaan listrik masih menjadi faktor terbesar penyebab terjadinya kebakaran di DKI Jakarta. Namun, tren faktor membakar sampah dan rokok juga mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya disebabkan kegiatan pembakaran terus meningkat di musim kemarau ekstrem 2023," kata Satriadi Gunawan dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu, 08 Oktober 2023.

Satriadi menjelaskan, adapun rincian objek yang terbakar, yaitu bangunan perumahan sebanyak 131 kejadian, sampah 118 kejadian, tumbuhan 88 kejadian, bangunan umum dan perdagangan 71, instalasi luar gedung 69 kejadian, kendaraan 21 kejadian, lapak 9 kejadian, bangunan industri 5 kejadian, dan lainnya 39 kejadian.

Lebih lanjut, Satriadi membeberkan selama periode bulan Juli 2023, terdapat 25 kasus kebakaran yang disebabkan aktivitas membakar sampah. Angka itu meningkat menjadi 64 kejadian pada Agustus dan September naik menjadi 79 kasus.

Menurutnya, kenaikan jumlah kasus kebakaran yang disebabkan oleh kegiatan membakar sampah ataupun puntung rokok karena pada musim kemarau ekstrem, banyak material kering mudah terbakar seperti kertas, karton, plastik, dan material organik.

“Saat sampah dibakar, kertas dan karton cepat menghasilkan api yang besar, ditambah kondisi angin kencang yang berpotensi merambat ke permukiman penduduk," paparnya.

Selain itu, musim kemarau juga berdampak pada berkurangnya sumber air untuk proses pemadaman api di lokasi kebakaran.

"Oleh karena itu, Dinas Gulkarmat DKI Jakarta mengimbau masyarakat tidak membakar sampah di situasi kemarau ekstrem ini," tandasnya.
sinpo

Komentar: