Penyerangan Tokoh Agama, Komisi VIII DPR Minta Menag Segera Ambil Langkah Proaktif
Jakarta, sinpo.id - Deding Ishak yang merupakan Anggota Komisi VIII DPR RI, meminta Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin untuk mengambil langkah proaktif dalam mengatasi serangkaian kasus penganiayaan kepada ulama. Lambatnya penanganan Pemerintah akan mengakibatkan umat muslim antipati terhadap rezim yang berkuasa saat ini.
“Menteri Agama sebaiknya segera mengumpulkan tokoh-tokoh agama, kemudian bertemu dengan MUI dan juga aparat keamanan baik Polri, TNI maupun BIN, karena kasus-kasus kekerasan terhadap ulama sudah sangat mencemaskan seperti era PKI dulu,” cetus Politisi Golkar ini kepada sinpo.id melalui keterangan tertulisnya, Senin (19/2/2018).
Deding mengingatkan, jika kasus-kasus kekerasan terhadap para ulama tidak diatasi maka akan ada gelombang ketidakpercayaan dari umat Islam terhadap Pemerintah saat ini. Apalagi Pemerintah saat ini juga cenderung abai terhadap aspirasi yang disuarakan umat muslim.
“Jika dibiarkan, maka ini akan mengkonfirmasi asumsi yang berkembang selama ini di kalangan umat Islam bahwa Pemerintah sekarang tidak mau mendengar aspirasi umat Islam, padahal banyak kebijakan dan program Pemerintah Jokowi-JK yang berpihak kepada umat Islam seperti program pembangunan madrasah dan pesantren, perbaikan penyelenggaraan ibadah haji dan lain sebagainya,” lanjut Deding yang juga Ketua Umum DPP Majelis Dakwah Islamiyah (MDI).
Oleh sebab itulah, dirinya mendesak Menag untuk bertindak proaktif dengan menemui MUI, tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam rangka mengatasi kasus-kasus penganiayan terhadap para ulama.
“Jika perlu minta bantuan TNI atau Polri dan BIN apabila kecenderungannya ada upaya merongrong kedaulatan Negara,” paparnya.
Deding mengingatkan, kasus-kasus kekerasan ulama mirip seperti yang terjadi di era pemberontakan PKI dulu, di mana para pemuka agama dibunuh dan disingkirkan. Dia lantas menunjuk kasus kekerasan terakhir yang menimpa KH Hakam Mubarok, pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem Paciran, Lamongan, Jawa Timur yang sangat dihormati.
“Saya pikir ini pelakunya bukan orang beragama, sebab kalau orang beragama bagaimana mungkin dia tega menganiaya tokoh agama yang sangat dicintai oleh para umatnya,” tegasnya sekaligus mengakhiri.

