Total Rp 2.263,7 Triliun Akan Dihabiskan Seluruh Dunia untuk Vaksin COVID-19 hingga 2025

  • Laporan:
Sinpo.id, Jakarta - Berdasarkan laporan perusahaan data kesehatan Amerika Serikat IQVIA Holdings Inc, total pengeluaran global untuk vaksin COVID-19 diproyeksikan mencapai 157 miliar dolar AS (sekitar Rp 2.263,7 triliun) pada 2025 mendatang.

Proyeksi pengeluaran itu didorong oleh program vaksinasi COVID-19 massal yang sedang berlangsung dan suntikan penguat imun yang diharapkan bisa dilakukan setiap dua tahun, dilansir Antara dari Reuters, Jumat, 30 April 2021.

Merujuk pada laporan yang dirilis Kamis, 29 April 2021, pembelanjaan vaksin diperkirakan akan menjadi yang tertinggi tahun ini pada angka 54 miliar dolar AS (sekitar Rp 778,7 triliun), dengan kampanye vaksinasi besar-besaran yang sedang berlangsung di seluruh dunia.

“Kemudian, pengeluaran negara-negara untuk vaksin COVID-19 diperkirakan menurun hingga menjadi 11 miliar dolar AS (sekira Rp 158,6 triliun) pada 2025, karena meningkatnya persaingan dan volume vaksin,” ujar Wakil Presiden Aenior IQVIA Murray Aitken.

"Sementara vaksin COVID-19 akan menelan biaya 157 miliar dolar AS selama lima tahun ke depan. Itu adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar dibandingkan dengan hilangnya nyawa manusia akibat pandemi," sambung Aitken.

IQVIA, yang menyediakan data dan analitis untuk industri perawatan kesehatan, memperkirakan gelombang pertama vaksinasi COVID-19 akan mencapai sekitar 70 persen dari populasi dunia pada akhir 2022.

Suntikan booster atau penguat kemungkinan akan mengikuti vaksinasi awal setiap dua tahun, berdasarkan data terkini tentang durasi efek vaksin.

“Amerika Serikat sedang mempersiapkan kemungkinan bahwa suntikan penguat akan diperlukan antara sembilan hingga 12 bulan setelah seseorang menerima dosis penuh vaksin COVID-19,” kata seorang pejabat Gedung Putih awal bulan ini.

Perusahaan farmasi AS, Pfizer Inc, juga mengatakan suntikan penguat mungkin diperlukan dalam 12 bulan.

Perkiraan pengeluaran untuk vaksin COVID-19 mewakili dua persen dari perkiraan sekitar 7 triliun dolar AS (sekira Rp 100.947,3 triliun) untuk semua obat yang diresepkan bagi pasien selama periode waktu itu, kata IQVIA.

Tidak termasuk biaya vaksin COVID-19, pengeluaran obat secara keseluruhan diperkirakan lebih rendah 68 miliar dolar AS (sekitar Rp 980,6 triliun) selama enam tahun dari 2020 hingga 2025, jika dibandingkan dengan kondisi dunia tanpa pandemi.

Laporan itu juga menyebut bahwa pandemi menyebabkan gangguan besar pada kunjungan dokter serta prosedur dan penggunaan obat-obatan, yang menyebabkan penimbunan beberapa obat di masa-masa awal dan kemudian kembali ke tren lebih normal.

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar