Trump Perkeras Retorika, Ancam Lanjutkan Serangan ke Iran

Laporan: Tim Redaksi
Kamis, 11 Juni 2026 | 05:38 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/AP)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/AP)

SinPo.id -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memperkeras ancamannya terhadap Iran, menyatakan serangan militer AS bisa terus berlanjut setelah insiden penembakan helikopter di Selat Hormuz.

“Saya mungkin akan terus melanjutkan. Mereka punya kesempatan untuk menandatangani kesepakatan dan bertahan hidup,” ujar Trump kepada Fox News, Rabu 10 Juni 2026. Ia menegaskan bahwa Iran telah “sepenuhnya dikalahkan” dan memperingatkan kemungkinan pemboman terhadap infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan.

Dalam acara di Gedung Putih, Trump menambahkan, “Kami akan menyerang mereka, menyerang mereka dengan sangat keras.” Meski demikian, ia tidak secara eksplisit mengonfirmasi rencana menyerang fasilitas sipil, hanya menyebut, “Tapi saya bisa melakukannya.”

Iran merespons serangan AS dengan meluncurkan rudal ke pangkalan yang menampung pasukan Amerika di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah gencatan senjata 8 April telah runtuh.

Pejabat Iran menegaskan tidak akan menandatangani kesepakatan yang mengabaikan “hak-hak bangsa Iran.” Presiden Iran Masoud Pezeshkian menekankan bahwa meski perang bukan kepentingan negaranya, Iran tidak akan menyerah jika kedaulatan dilanggar. “Perang tentu bukan kepentingan negara, tetapi jika mereka berusaha melanggar martabat, tanah, dan wilayah kami, kami tidak akan menyerah,” ujarnya.

Sementara itu, kritik terhadap Trump di dalam negeri semakin keras. Senator Demokrat Chris Murphy menilai Presiden telah kehilangan kendali atas perang Iran. “Ini pengingat harian bahwa Presiden telah kehilangan kendali penuh atas perang Iran dan kini kehilangan minat,” tulis Murphy di platform X.

Situasi ini menambah ketidakpastian atas arah kebijakan Washington, di tengah meningkatnya harga energi global akibat blokade Iran di Selat Hormuz.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI