Lewat Saudi Vision 2030, Kemendag Dorong Tingkatkan Ekspor Produk RI ke Arab
SinPo.id - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengajak para pelaku usaha untuk meningkatkan ekspor produk ke Arab Saudi dengan memanfaatkan peluang Saudi Vision 2030. Karena, perubahan struktur ekonomi Saudi akan turut memperluas ruang masuk produk Indonesia ke pasar negara tersebut melalui peningkatan permintaan.
"Kebijakan transformasi ekonomi Arab Saudi akan mengurangi ketergantungan terhadap sektor minyak dan gas dengan cara memperkuat sektor industri, pariwisata, logistik, serta ekonomi digital," kata Atase Perdagangan RI Riyadh, Zulvri Yenni, dalam keterangannya, Rabu, 20 Mei 2026.
Zulvri memperkirakan, sektor yang berpotensi tumbuh meliputi makanan dan minuman halal, produk pertanian, furnitur, fesyen muslim, kosmetik halal, hingga produk manufaktur bernilai tambah.
Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis Strategic Management Office–Council of Economic and Development Affairs (SMO-CEDA), lanjut Zulvri, transformasi Saudi Vision 2030 telah mencapai 93 persen pada 2025. Capaian ini diukur melalui 38 indikator utama dan 390 subindikator yang telah ditetapkan sejak peluncuran program pada 2016.
Implementasi dan perkembangan program transformasi ekonomi Arab Saudi tersebut dimonitor langsung oleh Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS).
Menurut Zulvri, Indonesia dapat memanfaatkan momentum Saudi Vision 2030 untuk mendorong ekspor ke Arab Saudi melalui penguatan diplomasi dagang, promosi produk unggulan, serta penguatan standar produk agar memenuhi kualifikasi yang ditetapkan.
Perwakilan perdagangan RI siap menjembatani penjajakan bisnis (business matching) antara eksportir Indonesia dan pembeli Arab Saudi.
"Pasar Arab Saudi saat ini sangat potensial bagi produk Indonesia. Untuk memaksimalkan peluang ini, perwakilan perdagangan di Arab Saudi siap memfasilitasi business matching pelaku usaha Indonesia dan Arab Saudi," imbuhnya.
Salah satu sektor berpeluang besar adalah makanan dan minuman halal yang juga turut menopang ekosistem perlengkapan haji. Pada 2025, jumlah jamaah umrah internasional Saudi mencapai 18,03 juta orang dan ditargetkan 30 juta orang pada 2030. Kondisi ini diperkirakan meningkatkan permintaan terhadap produk makanan siap saji, perlengkapan ibadah, produk kesehatan, serta layanan pendukung lainnya.
"Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemasok utama produk halal di Arab Saudi, terutama untuk memenuhi kebutuhan konsumen domestik Arab Saudi maupun jemaah internasional yang membutuhkan produk-produk tersebut, namun memiliki kompetitor sesama negara anggota ASEAN terutama Malaysia, Thailand, dan Vietnam " kata Zulvri.
Selain itu, tingkat partisipasi perempuan dalam pemenuhan lapangan pekerjaan Arab Saudi yang tercatat sebesar 35 persen telah menciptakan pasar baru bagi segmen tenaga kerja tersebut. Zulvri melihat ada peluang baru untuk memenuhi permintaan produk perawatan kulit (skincare), modest fashion untuk bekerja, serta berbagai layanan profesional lainnya bagi perempuan.
Proyek pembangunan besar-besaran di Arab Saudi juga membuka peluang bagi ekspor produk industri Indonesia. Pemerintah Saudi saat ini tengah mengembangkan berbagai proyek strategis, termasuk pembangunan kota pintar, kawasan industri, dan infrastruktur pariwisata. Di sektor hunian, kepemilikan rumah di Arab Saudi telah mencapai 66,24 persen.
Indonesia dapat memanfaatkan potensi peningkatan permintaan yang masif terhadap furnitur kayu, produk dekorasi interior, dan bahan bangunan untuk mengisi pasar Arab Saudi.
Sebagai informasi, pada periode Januari-Maret 2026, total perdagangan Indonesia dan Arab Saudi tercatat sebesar US$ 1,35 miliar, dengan ekspor Indonesia ke Arab Saudi US$ 527,40 juta dan impor Indonesia dari Arab Saudi US$ 825,50 juta.
Sementara pada 2025, total perdagangan kedua negara mencapai US$ 6,53 miliar dengan ekspor Indonesia tercatat US$ 2,88 miliar dan impor US$ 3,65 miliar.
Ekspor utama Indonesia ke Saudi di antaranya kendaraan dan bagiannya, lemak dan minyak hewani atau nabati, kapal laut, makanan olahan, serta kayu dan barang dari kayu. Sedangkan, impor Indonesia dari Arab Saudi di antaranya garam, belerang, kapur, plastik dan barang dari plastik, bahan kimia organik, berbagai produk kimia, serta buah-buahan.

