Wamen Ekraf: IP Lokal Sulit Tumbuh karena Ekosistem Kreatif Belum Terintegrasi
SinPo.id - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menilai pengembangan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) lokal masih menghadapi tantangan besar akibat ekosistem kreatif yang belum terhubung secara kuat antarsektor.
Menurut Irene, Indonesia memiliki potensi budaya dan identitas yang besar, namun belum sepenuhnya mampu diolah menjadi IP lokal yang memiliki daya saing nasional hingga global.
“Tantangannya tentu bagaimana kita mampu memperkenalkan, mengelola, dan mengembangkan IP lokal yang bisa dicintai masyarakat secara nasional,” kata Irene dalam keterangan resminya, Minggu, 17 Mei 2026.
Dia mengatakan penguatan IP lokal tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau pelaku industri kreatif semata. Menurut dia, dibutuhkan dukungan ekosistem terintegrasi yang melibatkan pemerintah, akademisi, sektor bisnis, komunitas, media, hingga lembaga keuangan.
“Indonesia bukan tidak punya identitas, justru terlalu banyak identitas,” ujar Irene.
“Karena itu lintas subsektor harus kompak bersatu dan punya market value," sambungnya.
Irene menilai persoalan utama IP lokal bukan hanya pada penciptaan karya, melainkan juga minimnya ruang tampil yang membuat publik sulit mengenal dan membangun kedekatan dengan produk kreatif dalam negeri.
“Kementerian Ekraf senantiasa menyediakan panggung dan ruang bagi IP lokal untuk tampil ke permukaan, sehingga tak hanya tersimpan pada ruang eksposur,” kata dia.
Dia mencontohkan budaya lokal Indonesia dapat menjadi sumber inspirasi utama dalam pengembangan IP kreatif. Menurut Irene, kekayaan budaya nasional bisa diolah menjadi identitas bisnis kreatif yang kuat dan memiliki karakter khas Indonesia.
Irene juga menekankan pentingnya rasa memiliki terhadap IP lokal agar mampu berkembang menjadi jenama global. Dia menyebut akselerasi IP lokal perlu dibarengi kesadaran kolektif untuk menjaga dan mendukung karya anak bangsa.

