Kiat Sehat Haji 2026

Jemaah Haji Diimbau Terapkan Teknik “2 Teguk Tiap 10 Menit” untuk Cegah Dehidrasi

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 17 Mei 2026 | 21:08 WIB
jemaah haji asal Indonesia di tanah suci. (SinPo.id/dok. Kemenhaj)
jemaah haji asal Indonesia di tanah suci. (SinPo.id/dok. Kemenhaj)

SinPo.id - Petugas kesehatan haji mengingatkan jemaah untuk tidak mengurangi konsumsi air minum demi menghindari bolak-balik ke kamar mandi selama menjalankan ibadah. Strategi tersebut justru dinilai berbahaya karena dapat meningkatkan risiko dehidrasi di tengah cuaca panas saat musim haji.

Dalam Seri Kesehatan Haji #2 yang disampaikan oleh Muhammad Fathi Banna Al Faruqi dari Sektor 1 Daker Bandara, jemaah diimbau menerapkan pola minum sedikit tetapi rutin guna menjaga kecukupan cairan tubuh tanpa memicu frekuensi buang air kecil berlebihan.

“Merasa repot bolak-balik kamar mandi sangat dapat dipahami karena bisa mengganggu kekhusyukan ibadah dan kelancaran tugas. Namun, mengurangi minum demi menghindari toilet adalah strategi yang berbahaya,” tulisnya dalam edukasi kesehatan tersebut.

Ia menjelaskan, kekurangan cairan atau dehidrasi dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari sulit fokus, sakit kepala ringan hingga berat, tubuh lemas, bahkan pingsan.

Untuk mencegah kondisi tersebut, jemaah disarankan tidak menunggu rasa haus datang sebelum minum. Sebab, ketika tubuh sudah memberi sinyal haus, kondisi dehidrasi ringan disebut telah mulai terjadi.

Petugas kesehatan juga menyarankan jemaah selalu membawa botol minum agar akses terhadap air tetap tersedia kapan saja. Salah satu metode yang direkomendasikan adalah teknik “2 teguk tiap 10 menit”.

Metode ini dinilai lebih efektif karena tubuh memiliki batas kemampuan menyerap cairan. Minum terlalu banyak sekaligus berpotensi membuat kelebihan cairan cepat dibuang melalui urine, sementara pola minum sedikit namun rutin memungkinkan penyerapan lebih optimal.

Selain itu, jemaah diminta menghindari konsumsi air terlalu dingin karena dapat menurunkan sensasi haus lebih cepat sehingga memunculkan persepsi tubuh telah cukup cairan, padahal belum.

Minuman seperti teh dan kopi juga perlu dibatasi karena bersifat diuretik, yakni merangsang ginjal mengeluarkan cairan lebih cepat sehingga meningkatkan risiko kehilangan cairan tubuh.

Petugas kesehatan mengingatkan jemaah untuk memperhatikan warna urine sebagai indikator hidrasi. Jika urine mulai berwarna kuning pekat hingga kemerahan, kondisi tersebut menjadi tanda tubuh membutuhkan tambahan cairan sesegera mungkin.

“Sebagaimana amalan yang lebih utama adalah yang rutin meskipun sedikit, demikian pula dengan minum. Minum sedikit secara rutin jauh lebih efektif mencukupi cairan tubuh dibanding minum banyak sekaligus namun cepat dibuang,” ujar Muhammad Fathi Banna Al Faruqi.

Edukasi ini merujuk pada sejumlah referensi kesehatan, termasuk panduan hidrasi dari American Academy of Family Physicians serta studi tentang penyakit terkait panas selama ibadah haji dalam Journal of Clinical Medicine.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI