Ikasman 37 Soroti Ancaman Hoaks dan Konsumerisme

Laporan: Sigit Nuryadin
Minggu, 17 Mei 2026 | 20:56 WIB
Ketua Umum Ikatan Alumni SMA 37 Jakarta (Ikasman 37), Boy Rafli Amar (SinPo.id/ Dok. Ikasman 37)
Ketua Umum Ikatan Alumni SMA 37 Jakarta (Ikasman 37), Boy Rafli Amar (SinPo.id/ Dok. Ikasman 37)

SinPo.id - Ketua Umum Ikatan Alumni SMA 37 Jakarta (Ikasman 37), Boy Rafli Amar, mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak kepanikan ekonomi dan arus informasi menyesatkan di tengah situasi global dan domestik yang dinilai kian menekan.

Pesan itu disampaikan Boy dalam acara Silaturahim Tanpa Batas yang digelar Ikasman 37 di Jakarta, Minggu, 17 Mei 2026. Dalam forum reuni lintas generasi itu, dia menilai ketahanan sosial masyarakat sedang diuji oleh persoalan ekonomi, polarisasi sosial, hingga maraknya hoaks di media sosial.

“Kita tidak bisa menutup mata bahwa situasi hari ini penuh tekanan, baik dari faktor global maupun dalam negeri,” kata Boy dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 17 Mei 2026.

“Kalau kita mulai berjalan sendiri-sendiri, saling curiga, atau bahkan saling menjatuhkan, maka kita sedang melemahkan diri kita sendiri," sambungnya. 

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme itu menilai solidaritas sosial menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas masyarakat. Menurut dia, tantangan ekonomi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan empati dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Dia juga menyoroti pola konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi. Boy meminta masyarakat lebih bijak membelanjakan uang dan tidak melakukan pembelian berlebihan terhadap kebutuhan pokok.

“Prioritaskan kebutuhan pokok, bukan keinginan. Jangan terpancing kepanikan yang justru membuat kita menimbun bahan pokok secara berlebihan,” ujar dia.

Menurut Boy, tindakan menimbun kebutuhan pokok justru berpotensi memperburuk situasi sosial. 

“Menjaga stok untuk keluarga itu wajar, tapi jangan berlebihan sampai merugikan orang lain,” katanya.

Selain persoalan ekonomi, Boy memberi perhatian khusus terhadap penggunaan media sosial yang dinilai semakin dominan membentuk persepsi publik. Dia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.

“Media sosial hari ini bukan sekadar alat komunikasi, tapi juga alat pembentuk persepsi,” kata dia. 

“Gunakan media sosial untuk hal positif, untuk membangun, bukan menyebarkan ketakutan atau kebencian," tambahnya. 

Dia menyebut hoaks dapat menjadi pemicu konflik sosial jika tidak disikapi secara kritis. Karena itu, masyarakat diminta disiplin memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

“Kita harus disiplin memverifikasi informasi. Jangan langsung percaya, apalagi menyebarkan, sebelum kita tahu kebenarannya,” ujar Boy.

Dalam kesempatan itu, Boy juga mengajak masyarakat tetap menjaga kepercayaan terhadap institusi negara. Menurut dia, kritik terhadap pemerintah tetap diperlukan, namun tidak boleh berkembang menjadi ketidakpercayaan total yang memicu instabilitas.

Acara silaturahmi tersebut dihadiri sejumlah alumni SMA 37 Jakarta yang kini berkiprah di berbagai bidang, antara lain Hendri Satrio, Nova Paloh, serta Indra Birowo.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI