Perundingan Gencatan Senjata AS–Iran Alami Kebuntuan, Selat Hormuz Jadi Titik Sengketa
SinPo.id - Perundingan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Pakistan dilaporkan mengalami kebuntuan. Menurut Financial Times, status Selat Hormuz menjadi isu utama yang menghambat tercapainya kesepakatan. Setelah dua putaran negosiasi, pihak Iran menyebut putaran ketiga kemungkinan digelar pada Sabtu malam atau Minggu 12 April 2026.
Ketegangan meningkat setelah sejumlah kapal perang AS melintasi Selat Hormuz untuk pertama kalinya sejak perang dimulai enam minggu lalu. Seorang pejabat AS mengatakan operasi tersebut bertujuan menegakkan kebebasan navigasi di perairan internasional. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi dua kapal perusak dikerahkan untuk memulai proses pembersihan ranjau laut di jalur vital perdagangan energi dunia.
Media pemerintah Iran menilai langkah itu sebagai pelanggaran gencatan senjata dan memperingatkan potensi serangan balasan. Namun, pejabat Washington menyatakan tidak menerima peringatan langsung dari Teheran.
Presiden AS Donald Trump turut memberikan pembaruan melalui Truth Social. Ia mengklaim pasukan Amerika telah mulai membersihkan ancaman di Selat Hormuz demi kepentingan perdagangan global. Trump bahkan menyebut 28 kapal Iran yang diduga menjatuhkan ranjau telah ditenggelamkan. Pernyataan itu segera dibantah oleh media resmi Iran, Nournews, yang menyebut klaim Trump sebagai “berita palsu.”
Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit seperlima pasokan minyak dunia, tetap menjadi titik krusial dalam perundingan. Meski beberapa kapal tanker mulai kembali melintas, aktivitas masih jauh di bawah normal karena kekhawatiran akan ranjau dan serangan. Situasi ini menegaskan rapuhnya gencatan senjata, dengan kedua pihak terus menguji batas kesepakatan sementara diplomasi berjalan di Pakistan.

