Ekonom Sebut Konflik Timur Tengah Gerus Kemampuan Ekonomi Masyarakat Indonesia
SinPo.id - Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, mengatakan konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel telah menggerus kemampuan ekonomi masyarakat terutama kelas pekerja. Sehingga beberapa kebijakan fiskal dan sosial yang pro-pekerja harus ditempuh.
Menurutnya konflik di Timur Tengah tersebut telah mengerek biaya energi seperti BBM, serta mengurangi nilai mata uang Indonesia. Hal itu dapat meningkatkan biaya produksi nasional, sekaligus mengancam kelas pekerja dengan PHK dan peningkatan jumlah pekerja informal.
"Tren daya beli menurun, banyak calon kelas menengah turun ke kelas rentan, ini berarti akan semakin banyak orang miskin” kata Dipo, dalam keterangan persnya yang diterima SinPo.id, Rabu, 11 Maret 2026.
Sementara itu, Deputi Departemen Ideologi Partai Buruh Hizkia Yosie Polimpung menjelaskan, konflik geopolitik yang dilancarkan Amerika Serikat saat ini adalah upaya untuk memperbaiki fondasi moneter di tengah memudarnya kepercayaan dunia atas dolar atau dedolarisasi.
Pasalnya, setiap perang yang melibatkan Amerika berhasil mendorong imestor untuk memindahkan uang ke aset yangdianggap paling aman, yakni surat utang Amerika Serikat atau Treasury Bonds.
“Bagaimana membuat nilai Treasury Bonds aman? Cara pemerintah Donald Trump adalah dengan menggalakan penaklukan militer seperti yang berjalan saat ini,” ungkapnya.
Selain itu, Yosie juga menjelaskan rencana Trump untuk menggantikan kepercayaan pada diri dan dinasti politiknya sebagai penopang nilai dolar. Sehingga, menggeser posisi bank sentral sebagai penentu kebijakan moneter Amerika Serikat. Sehingga siapa pun yang dekat dengan Trump, maka posisi ekonominya akan aman.
Oleh sebab itu, perlu adanya upaya deeskalasi konflik dan kembalinya seluruh pihak yang berkonflik ke meja perundingan agar dampak dari perang tidak meluas. Namun, pemerintah Indonesia juga harus merancang APBN sebagai pelindung keadaan sosial.

