Eskalasi Usai Tewasnya Ali Khamenei: Iran Klaim Hantam USS Abraham Lincoln dan Tembak Jatuh 22 Drone AS-Israel
SinPo.id - Ketegangan di Timur Tengah kian memanas. Garda Revolusi Iran mengklaim telah menghantam kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, dengan empat rudal balistik di kawasan Teluk.
Serangan tersebut disebut sebagai respons langsung atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.
“Kapal induk AS Abraham Lincoln dihantam oleh empat rudal balistik,” demikian pernyataan resmi Garda Revolusi Iran yang dimuat media lokal dan dilaporkan Al Jazeera, Minggu 1 Maret 2026.
Operasi Epic Fury dan Serangan Balasan
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan besar-besaran ke Iran dalam operasi bertajuk Operasi Epic Fury pada Sabtu 28 Februari 2026. Serangan itu dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Ali Khamenei, serta ratusan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan ke sejumlah target, termasuk Riyadh dan Provinsi Timur Arab Saudi, pada Sabtu dan Minggu. Selain itu, Teheran mengklaim telah menembak jatuh 22 drone canggih jenis Hermes yang diduga milik AS dan Israel.
Otoritas militer Iran menyebut sedikitnya 10 drone berhasil dilumpuhkan hanya dalam satu hari terakhir. Mereka menegaskan bahwa ini merupakan fase “perlawanan skala penuh” dan memperingatkan bahwa kemampuan militer terkuat Iran, termasuk sistem rudal canggih, belum sepenuhnya dikerahkan.
Ancaman Perang Eksistensial
Garda Revolusi Iran juga mengeluarkan pernyataan keras bahwa wilayah darat dan laut akan menjadi “kuburan” bagi musuh-musuhnya. Para pemimpin Iran menggambarkan konflik kali ini sebagai perang eksistensial, berbeda dari konfrontasi sebelumnya.
Menurut mereka, tidak akan ada kompromi maupun penyerahan diri sampai Iran menunjukkan kemampuannya mempertahankan martabat dan kemerdekaannya.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari militer Amerika Serikat terkait tingkat kerusakan maupun kemungkinan korban jiwa akibat klaim serangan terhadap USS Abraham Lincoln, yang diketahui telah beroperasi di Laut Arab sejak akhir Januari.
Situasi ini meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik regional, dengan potensi dampak besar terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi global.

