Buka Dialog dengan Para Tokoh, Sikap Prabowo Selaras Pancasila

Laporan: Juven Martua Sitompul
Jumat, 06 Februari 2026 | 20:05 WIB
Pengamat Komunikasi Politik Swarna Dwipa Institute (SDI) Frans Immanuel Saragih. Istimewa
Pengamat Komunikasi Politik Swarna Dwipa Institute (SDI) Frans Immanuel Saragih. Istimewa

SinPo.id - Presiden Prabowo Subianto mengundang berbagai tokoh ke Istana Negara, mulai dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan para tokoh yang kerap mengkritik berbagai kebijakan pemerintah.

Dalam pertemuan itu, mereka berdialog dengan para kepala daerah se Indonesia dan ditutup dengan bertemu para mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia.

Pengamat Komunikasi Politik Swarna Dwipa Institute (SDI) Frans Immanuel Saragih menyampaikan pertemuan itu sangat positif mengingat tensi politik di akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026 relatif agak meninggi. Ditambah oleh situasi geopolitik global yang penuh gejolak belakangan ini.

"Secara etimologis, dialog berasal dari bahasa Yunani yaitu dialogos yang berarti 'dia' (melalui /through) dan 'logos' (makna kata). Atau dengan bahasa yang sederhana pencapaian dari suatu makna kata. Maka oleh karena itu, dalam iklim demokrasi sangat dianjurkan adanya upaya dialog agar segala sesuatu itu tidak terjadi salah pemaknaan. Hal ini juga selaras dengan Pancasila, yakni prinsip musyawarah untuk mencapai mufakat," kata Frans di Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.

Menurut Frans, apa yang diperlihatkan oleh Presiden Prabowo dalam satu tahun empat bulan pemerintahannya menunjukkan dia sosok Presiden yang terbuka dengan beragam pihak.

"Coba kita perhatikan jejak pemerintahannya tahun lalu begitu panjang waktu yang disediakan oleh Presiden berdialog dengan para jurnalis, tahun ini dengan beragam pihak. Bahkan dengan para mantan Menlu yang mana menteri sebenarnya adalah pembantu presiden, tapi dia membuka diri mendengarkan dan menjelaskan programnya kepada para mantan Menlu," ujar Frans.

"Tidak sedikit tokoh bangsa yang kerap mengkritiknya, seperti Said Didu, Abraham Samad, Prof Siti Juhro, dan lain lain, tapi Prabowo tetap menyediakan waktu berdialog," timpalnya.

Keterbukaan seperti ini, kata Frans, sangat jarang ditemukan dalam beberapa tahun belakangan. Semua yang bertemu Presiden Prabowo menyampaikan bahw dia memiliki pandangan yang baik serta pemahaman yang luas pada permasalahan bangsa.

"Seperti yang diutarakan oleh Said Didu bahwa dia percaya pada niat baik Presiden, oleh karena itu kita harus membantu Presiden mewujudkan niat baik tersebut," katanya.

"Jadi menurut hemat saya Prabowo berhasil membuka komunikasi aktif dengan berbagai pihak, membebaskan masyarakatnya untuk mengutarakan pandangannya, bahkan Presiden juga mengikuti perkembangan berita di medsos, tinggal bagaimana kita menjaga iklim keterbukaan ini dengan baik sebagai sarana pendidikan politik bangsa," tegas Frans.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI