Ancaman Serangan AS, Komentator Iran Desak Dialog Langsung dengan Trump untuk Hindari Perang
SinPo.id - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah sejumlah komentator Iran memperingatkan ancaman eksistensial terhadap Teheran. Mantan duta besar Iran untuk Jerman yang berbasis di AS, Hossein Mousavian, bahkan menyarankan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk mengundang Presiden AS Donald Trump ke Teheran sebagai langkah de-eskalasi.
“Trump benar-benar ingin berbicara langsung dengan Iran. Angkat telepon dan bicara dengannya. Jangan buang waktu, situasi sangat berbahaya,” ujar Mousavian kepada Ensaf News.
Ia menekankan bahwa tanpa langkah cepat, Iran berisiko menghadapi konfrontasi militer dengan AS, Israel, dan NATO.
Peringatan dari Pengamat Politik
Pengamat politik Iran, Reza Nasri, memberikan penilaian lebih hati-hati. Ia menilai Trump berbeda dari pendahulunya karena mampu melancarkan perang cepat tanpa beban biaya besar bagi AS.
“Optimisme prematur terhadap sinyal damai Trump bisa berujung pada salah perhitungan berbahaya dengan menurunkan kewaspadaan Iran,” kata Nasri.
Nasri juga menyinggung demonstrasi besar yang sebelumnya terjadi di Iran, menyebutnya sebagai ancaman kompleks yang bertujuan melemahkan sistem politik negara.
Alarm dari Kalangan Garis Keras
Komentator garis keras sekaligus figur media sosial, Ali-Akbar Raefipour, memperingatkan bahwa persiapan serangan asing sudah berlangsung. Ia mengklaim tanpa bukti bahwa sel-sel pemberontakan dan pembunuhan terarah dapat diaktifkan jika Iran diserang.
“Tujuan mereka termasuk membunuh tokoh penting dan merebut pusat-pusat sensitif. Dalam beberapa hari terakhir, kami melihat peralatan masuk ke Iran untuk kelompok ini,” tulis Raefipour di X.
Pernyataan para komentator Iran mencerminkan ketegangan geopolitik yang semakin tajam. Di satu sisi, ada dorongan untuk membuka jalur diplomasi langsung dengan Trump, sementara di sisi lain muncul narasi ancaman militer yang semakin keras. Situasi ini menempatkan Iran pada persimpangan antara dialog atau eskalasi konflik yang berpotensi mengguncang stabilitas regional.

