Iran Pamer Terowongan Rudal Bawah Laut, Ancam Keamanan Selat Hormuz di Tengah Ketegangan dengan AS

Laporan: Tim Redaksi
Kamis, 29 Januari 2026 | 06:21 WIB
Selat Hormuz
Selat Hormuz

SinPo.id -  Iran kembali menunjukkan kekuatan militernya dengan mengumumkan keberadaan jaringan terowongan rudal bawah laut yang diklaim menyimpan ratusan rudal jelajah jarak jauh. Pengumuman ini disertai peringatan bahwa Selat Hormuz tidak akan aman jika Iran diserang, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

Dalam tayangan televisi pemerintah, Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Alireza Tangsiri, memperlihatkan fasilitas bawah laut berisi deretan rudal siap luncur. Ia menyebut rudal Qader 380 L buatan IRGC memiliki jangkauan lebih dari 1.000 km dan dilengkapi sistem panduan cerdas.

“Kemampuan kami terus berkembang. Kami siap menghadapi ancaman di level dan geografi mana pun,” tegas Tangsiri.

Dominasi di Selat Hormuz

Deputi politik IRGC Angkatan Laut, Mohammad Akbarzadeh, menegaskan Iran memiliki dominasi penuh atas Selat Hormuz, baik dari udara, permukaan, maupun bawah laut. Ia menambahkan, Iran mampu melacak kapal berbendera asing dengan teknologi modern dan siap merespons jika terjadi serangan.

“Jika perang dipaksakan kepada kami, respons akan lebih tegas dari sebelumnya,” ujarnya.

Selat Hormuz merupakan jalur vital dunia, dengan lebih dari 21 juta barel minyak melewati kawasan ini setiap hari, setara 37 persen lalu lintas minyak global.

Peringatan Politik

Peringatan militer ini diperkuat oleh pernyataan politikus senior Iran. Mohammad Mokhber, penasihat pemimpin tertinggi Ali Khamenei, menegaskan keamanan kawasan tidak bisa dipisahkan dari stabilitas regional. Ia menyerukan penghapusan kehadiran militer asing dan mendorong dialog kolektif antarnegara pesisir.

“Keamanan dan stabilitas di kawasan adalah untuk semua atau tidak ada sama sekali,” kata Mokhber.

Respons Amerika Serikat

Ketegangan meningkat setelah kapal induk USS Abraham Lincoln dan armada AS tiba di kawasan. Presiden AS Donald Trump menyatakan semua opsi terbuka, namun berharap Iran mau berdialog. Sementara itu, pejabat Departemen Luar Negeri AS menuding Iran menyia-nyiakan kekayaan negara untuk program rudal dan nuklir.

Iran menolak negosiasi di bawah tekanan, namun tetap melakukan diplomasi dengan negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Mesir, untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Unjuk kekuatan Iran melalui terowongan rudal bawah laut dan ancaman terhadap Selat Hormuz menambah ketegangan geopolitik di kawasan Teluk. Dengan jalur minyak dunia yang bergantung pada selat ini, setiap eskalasi berpotensi menimbulkan guncangan besar terhadap ekonomi global.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI