Legislator Sebut Hilirisasi Industri Karet Masih Jauh dari Optimal
SinPo.id - Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini, menyebut hilirisasi industri di Indonesia, khususnya di sektor karet, masih jauh dari kata optimal. Karena capaian hilirisasi tidak bisa hanya diukur dari peningkatan ekspor maupun volume produksi semata.
Terlebih faktanya, sekitar 85 persen ekspor Indonesia masih didominasi barang setengah jadi, sehingga nilai tambah bagi negara dan kesejahteraan petani belum maksimal.
“Ini harus menjadi catatan kritis bagi Kementerian Perindustrian, bagaimana menambah nilai tambah bagi Indonesia, terutama bagi petani dan masyarakat sekitar industri," kata Novita, dalam keterangan persnya, dikutip Minggu, 25 Januari 2026.
Oleh sebab itu, pihaknya menekankan pentingnya insentif bagi industri yang telah bertransformasi ke industri hijau, termasuk memastikan bahwa insentif tersebut terintegrasi dengan pemberdayaan petani dan peningkatan serapan tenaga kerja lokal.
"Insentif itu harus berdampak langsung pada petani, masyarakat sekitar, peningkatan kreativitas, serta daya saing nasional,” tegasnya.
Terakhir, Novita mengingatkan pemerintah agar tak hanya fokus pada target ekspor, tetapi juga memperkuat pasar domestik. Karen menurutnya, ekspor bahan mentah dan setengah jadi tanpa nilai tambah justru berpotensi menjadi kebocoran ekonomi bagi Indonesia.
“Kita harus bisa menjadi raja di negeri sendiri. Dampak kebijakan industri harus nyata dirasakan masyarakat dan petani,” katanya menambahkan.