Burhan Tegas: Tak Akan Ada Perdamaian di Sudan Selama RSF Belum Dilumpuhkan
SinPo.id - Ketua Dewan Kedaulatan Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, menegaskan tidak akan ada perdamaian di negaranya selama kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) belum dilumpuhkan. Pernyataan itu disampaikan Burhan di tengah konflik berkepanjangan antara militer Sudan dan RSF yang telah berlangsung sejak 2023.
Berbicara kepada wartawan di kediamannya di Port Sudan, Minggu, Burhan menyatakan bahwa setiap upaya solusi yang masih melibatkan RSF hanya akan menunda krisis, bukan mengakhirinya.
“Tidak akan ada perdamaian sampai RSF dilumpuhkan. Setiap proposal solusi yang mencakup RSF hanyalah penundaan krisis,” kata Burhan.
Ia menegaskan bahwa melumpuhkan RSF tidak selalu berarti memusnahkan seluruh anggotanya. Menurutnya, solusi juga dapat ditempuh dengan cara kelompok tersebut meletakkan senjata dan menyerah.
Burhan menggarisbawahi bahwa konflik bersenjata telah menyebabkan kehancuran besar di Sudan, menimbulkan korban sipil dalam jumlah signifikan serta kerusakan material di berbagai wilayah. Ia menyebut hampir tidak ada warga Sudan yang tidak terdampak perang, dan menegaskan bahwa rakyat Sudan tetap bersatu menentang RSF.
Terkait upaya internasional untuk mendorong gencatan senjata, Burhan menyinggung meningkatnya seruan damai setelah jatuhnya El Fasher pada Oktober lalu. Ia menilai seruan tersebut muncul bersamaan dengan upaya memberi ruang bagi RSF untuk memperluas wilayah kekuasaan.
“Tidak ada usulan gencatan senjata selama pengepungan El Fasher. Setelah kota itu jatuh, seruan tersebut meningkat karena mereka ingin RSF menguasai lebih banyak wilayah,” ujarnya.
Burhan juga mengungkapkan bahwa Sudan sempat mengusulkan Turki atau Qatar sebagai mediator konflik, namun usulan tersebut ditolak oleh RSF. Ia menambahkan bahwa negara-negara regional seperti Arab Saudi dan Mesir juga berpotensi berperan dalam proses mediasi.
“Kami percaya kepada Tuhan terlebih dahulu, lalu kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan,” kata Burhan.
Ia menekankan bahwa kekuatan RSF tidak sebanding dengan Angkatan Bersenjata Sudan.
“Kedua pihak yang bertempur di sini tidak setara. RSF tidak sebanding dengan tentara Sudan. Seluruh dunia mengatakan hal ini,” tegasnya.
Meski terdapat berbagai resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa, Burhan menilai RSF masih terus melakukan serangan dan menyelundupkan senjata ke Sudan, khususnya ke wilayah Darfur, tanpa adanya tindakan efektif dari komunitas internasional.
“Kami, rakyat Sudan dan angkatan bersenjata, bertekad untuk melumpuhkan RSF. Namun kami tetap terbuka terhadap semua solusi damai,” katanya.
Sejak April 2023, Sudan dilanda perang antara militer Sudan dan RSF yang dipicu perselisihan terkait penyatuan kekuatan militer. Konflik tersebut telah berkembang menjadi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa jutaan warga mengungsi.

