PKS Dukung Keputusan Prabowo Tingkatkan Dana Riset Jadi Rp12 Triliun

Laporan: Galuh Ratnatika
Jumat, 16 Januari 2026 | 19:57 WIB
Presiden Prabowo Subianto (SinPo.id/Setpres)
Presiden Prabowo Subianto (SinPo.id/Setpres)

SinPo.id - Sekjen PKS, Muhammad Kholid, mendukung penuh keputusan Presiden Prabowo Subianto yang meningkatkan alokasi dana riset perguruan tinggi nasional dari Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun.

Menurutnya, kebijakan tersebut sebagai langkah strategis dalam memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang bertumpu pada ilmu pengetahuan, inovasi, dan peningkatan nilai tambah industri nasional.

Namun pihaknya meminta agar peningkatan anggaran diarahkan secara terintegrasi dengan kebutuhan strategis industri nasional, sehingga hasil riset tidak berhenti pada kuantitas publikasi akademik semata, tetapi berujung pada lahirnya teknologi, produk, dan solusi nyata.

“Riset harus ditempatkan sebagai instrumen utama transformasi ekonomi. Dari sanalah lahir inovasi, industrialisasi berbasis teknologi, serta penguatan daya saing nasional,” kata Kholid, dalam keterangan persnya, Jumat, 16 Januari 2026.

Ia pun menilai kebijakan tersebut menandai menguatnya komitmen negara untuk mengejar ketertinggalan struktural Indonesia dalam bidang inovasi. 

Terlebih berdasarkan data OECD per Maret 2025, belanja riset Indonesia masih berada di kisaran 0,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di bawah sejumlah negara ASEAN seperti Malaysia dan Thailand yang telah mendekati 1 persen, serta Singapura yang mencapai sekitar 1,8 persen PDB. 

“Perbandingan ini harus dibaca secara jujur dan objektif. Hampir semua negara yang berhasil membangun basis industri kuat dan ekonomi bernilai tambah tinggi menjadikan riset sebagai prioritas fiskal jangka panjang,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Khalid menekankan agar peningkatan dana riset perguruan tinggi tidak dipandang sebagai kebijakan sektoral semata, melainkan sebagai bagian dari strategi besar pembangunan ekonomi nasional. 

Ia menegaskan, riset harus menjadi jembatan antara dunia akademik, kebutuhan industri, dan agenda hilirisasi sumber daya nasional. Sehingga kebijakan Prabowo tersebut dapat menjadi momentum penting dalam membangun ekosistem inovasi nasional yang berkelanjutan, memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia usaha, serta mempercepat transisi Indonesia menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan nilai tambah tinggi.

“Negara-negara unggul hari ini adalah negara yang puluhan tahun lalu secara konsisten menjadikan riset sebagai mesin industrialisasi dan kemajuan. Indonesia harus bergerak lebih cepat dan lebih berani ke arah tersebut,” tandasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI