AS Tuduh Rusia Eskalasi Berbahaya di Ukraina, Serangan Energi dan Sipil Terus Berlanjut

Laporan: Tim Redaksi
Rabu, 14 Januari 2026 | 07:56 WIB
Stasiun kereta api di kota Fastiv yang hancur akibat serangan Rusia. (SinPo.id/ EPA)
Stasiun kereta api di kota Fastiv yang hancur akibat serangan Rusia. (SinPo.id/ EPA)

SinPo.id -  Amerika Serikat menuduh Rusia melakukan “eskalasi berbahaya dan tak dapat dijelaskan” dalam perang Ukraina setelah Moskow melancarkan serangan baru terhadap infrastruktur energi dan sipil di Kyiv serta sejumlah wilayah lain, di tengah upaya negosiasi damai yang dipimpin Washington.

Wakil Duta Besar AS untuk PBB, Tammy Bruce, menyampaikan kecaman tersebut dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB di New York, Senin (waktu setempat). Ia menilai serangan Rusia berpotensi memperluas dan memperparah konflik, meski Amerika Serikat bersama Ukraina, negara-negara Eropa, dan Rusia terus mendorong penyelesaian perang melalui jalur diplomasi.

Bruce mengecam keras rentetan serangan misil dan drone Rusia yang menyasar fasilitas energi Ukraina, termasuk penggunaan rudal balistik “Oreshnik” yang memiliki kemampuan nuklir dan diluncurkan ke wilayah Ukraina dekat perbatasan Polandia serta NATO.

“Serangan-serangan ini mencederai upaya perdamaian, sebuah tujuan yang sangat penting bagi dunia dan bagi Presiden Trump,” ujar Bruce. Ia juga mengingatkan Rusia atas dukungannya terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 2774 yang disepakati hampir setahun lalu dan menyerukan diakhirinya konflik secara cepat. “Akan lebih baik jika Rusia menyelaraskan pernyataannya dengan tindakan nyata,” katanya.

Laporan Misi Pemantauan HAM PBB di Ukraina (HRMMU) menyebutkan bahwa tahun 2025 menjadi tahun paling mematikan bagi warga sipil sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh pada 2022. Dalam laporan Desember, HRMMU mencatat sedikitnya 2.514 warga sipil tewas dan lebih dari 12.000 lainnya luka-luka sepanjang 2025, meningkat tajam dibandingkan dua tahun sebelumnya. Serangan jarak jauh menggunakan misil dan drone disebut menjadi penyumbang utama korban, terutama di kawasan perkotaan yang jauh dari garis depan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Rusia meluncurkan hampir 300 drone serang, 18 rudal balistik, dan tujuh rudal jelajah yang menargetkan wilayah Dnipro, Zhytomyr, Zaporizhzhia, Kyiv, Odesa, Sumy, Kharkiv, dan Donetsk. Ia mengungkapkan empat orang tewas di Kharkiv setelah sebuah misil menghantam terminal pos.

Zelenskyy menambahkan bahwa Kyiv terus melakukan pembicaraan intensif dengan mitra Amerika Serikat dan Eropa, termasuk pembahasan dokumen terkait jaminan keamanan dari AS serta rencana rekonstruksi pascaperang.

Di sisi lain, Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia menegaskan bahwa negaranya tidak pernah menutup pintu dialog. Namun, ia menegaskan Rusia akan terus menempuh jalur militer hingga Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy “menyadari kenyataan dan menyetujui syarat-syarat negosiasi yang realistis”.

Ketegangan ini kembali menegaskan rapuhnya prospek perdamaian Ukraina, di tengah meningkatnya korban sipil dan saling tuding antara Rusia dan Barat terkait arah penyelesaian konflik.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI