Ratusan Pengungsi Palestina Tiba di Afrika Selatan Lewat Penerbangan Misterius

Laporan: Tim Redaksi
Senin, 17 November 2025 | 05:24 WIB
Ilustrasi. (Jurnalis Gaza, Mohammad Rabah)
Ilustrasi. (Jurnalis Gaza, Mohammad Rabah)

SinPo.id -  Gelombang kecaman muncul di Afrika Selatan setelah dua penerbangan charter misterius yang membawa ratusan warga Palestina dari Gaza mendarat di Bandara Internasional OR Tambo dalam dua pekan terakhir. Sejumlah kelompok masyarakat sipil menuding Israel berada di balik perpindahan paksa tersebut, yang disebut sebagai bagian dari upaya sistematis “mengosongkan” penduduk Gaza.

Humanitarian group Gift of the Givers melaporkan bahwa penerbangan pertama, mendarat akhir bulan lalu, membawa 176 pengungsi Palestina. Penerbangan kedua yang singgah di Nairobi membawa 153 orang, namun sempat ditahan selama hampir 12 jam oleh Otoritas Manajemen Perbatasan Afrika Selatan (BMA) karena tidak memiliki alamat tujuan, rencana tinggal, maupun stempel keluar Israel dalam paspor mereka.

Situasi tersebut memicu kemarahan kelompok kemanusiaan hingga akhirnya Presiden Cyril Ramaphosa turun tangan.

“Saya katakan kita tidak bisa mengembalikan mereka. Mereka datang dari negara yang porak poranda oleh perang. Dari sisi kemanusiaan dan empati, kita harus menerima mereka,” ujar Ramaphosa kepada awak media, Jumat lalu.

Namun Ramaphosa juga mengaku curiga. “Terlihat seperti mereka sedang ‘dibuang’. Kita akan menyelidikinya,”tegasnya.

Pemerintah Afrika Selatan kini tengah menyelidiki bagaimana dua pesawat charter itu bisa terbang dari Israel ke Afrika Selatan tanpa dokumen resmi.

Bayar USD 1.500–5.000 untuk “Evakuasi”

Pastor dan aktivis sosial Nigel Branken, yang ikut membantu para pengungsi di bandara, mengungkapkan kepada Anadolu bahwa para warga Palestina mengaku membayar USD 1.500–5.000 kepada sebuah situs yang menawarkan “jalan keluar dari Gaza”.

“Orang-orang sangat putus asa karena genosida. Mereka tidak tahu apakah perusahaan itu benar atau penipuan,” jelas Branken.

Para pengungsi mengira mereka akan dikirim ke Indonesia atau Malaysia, namun justru berakhir di Johannesburg. Mereka juga diminta meninggalkan tas dan barang-barang pribadi di titik keberangkatan, termasuk obat-obatan dan mainan anak.

“Ketika pesawat pertama tiba pada 28 Oktober, anak-anak bahkan meninggalkan mainan mereka. Tidak ada stempel keluar Israel, tidak ada dokumen digital,” kata Branken.

Dari 153 pengungsi di penerbangan kedua, 23 di antaranya melanjutkan perjalanan ke negara lain, sementara 130 tetap berada di Afrika Selatan bersama 176 orang dari penerbangan pertama.

Tudingan Etno-Klensing Menguat

Iqbal Jassat dari Media Review Network menuding keras Israel sebagai aktor utama di balik perpindahan paksa ini.

“Tidak mungkin warga Gaza bisa melewati garis kuning tanpa ditembak. Mereka dibawa dengan bus melewati zona militer Israel menuju Bandara Ramon. Ini jelas kampanye etno-klensing,” katanya.

Pendapat serupa disampaikan Imtiaz Sooliman, pendiri Gift of the Givers.
“Israel sudah mencoba bom 2.000 pon, kelaparan, pembunuhan jurnalis, penghancuran rumah sakit, penggunaan fosfor. Ketika semua itu gagal, sekarang mereka memindahkan orang dengan mobil dan pesawat,” tegasnya.

Pengungsi Tidak Tahu Tujuan Akhir

Na’eem Jeenah, akademisi dan aktivis, menuduh perusahaan Al-Majd Europe—yang disebut-sebut mengatur evakuasi—sebagai proyek yang terkait Israel. Menurutnya, sebagian pengungsi bahkan memiliki pemesanan hotel acak di Mumbai atau Kuala Lumpur tanpa tahu ke mana sebenarnya mereka sedang dibawa.

Sementara itu, Kedutaan Palestina di Pretoria mengeluarkan peringatan di platform X agar warga Gaza tidak berurusan dengan organisasi tidak resmi dan hanya mengikuti arahan otoritas Palestina.

Dengan meningkatnya jumlah warga Palestina yang tiba melalui jalur misterius ini, desakan bagi pemerintah Afrika Selatan untuk membuka investigasi lebih luas kian menguat. Pemerintah menegaskan prioritasnya tetap pada aspek kemanusiaan, sementara dugaan praktik migrasi paksa oleh Israel kini menjadi perhatian internasional.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI