Iran Tegaskan Israel Hanya Mengerti Bahasa Kekuatan, Serukan Akhiri Hegemoni AS di Timur Tengah

Laporan: Tim Redaksi
Kamis, 13 November 2025 | 06:12 WIB
IRAN
IRAN

SinPo.id -  Wakil Ketua Parlemen Iran, Ali Nikzad, menegaskan bahwa rezim Zionis Israel hanya memahami bahasa kekuatan dan perlawanan, bukan diplomasi atau kompromi. Pernyataan itu disampaikan dalam Konferensi Antar Parlemen Dunia (Inter-Parliamentary Speakers’ Conference/ISC 2025) yang digelar di Islamabad pada 10–12 November 2025.

Nikzad mengatakan, perang 12 hari pada Juni lalu membuktikan bahwa Israel hanya bisa dihentikan dengan kekuatan dan keteguhan, bukan melalui tekanan diplomatik.

“Rezim Zionis tidak pernah memahami bahasa damai. Mereka hanya mundur ketika dihadapkan pada kekuatan yang nyata,” tegas Nikzad dalam pidatonya di Islamabad.

Ia menambahkan, Iran selama ini menjadi teladan bagi perdamaian yang adil berdasarkan martabat manusia dan kebebasan bangsa-bangsa. Menurutnya, perdamaian sejati tidak bisa dibangun di atas penjajahan, pemaksaan, dan politik apartheid.

Nikzad juga menuding Amerika Serikat sebagai aktor utama di balik ketidakstabilan kawasan, karena terus mendukung Tel Aviv serta memicu konflik dan kelompok ekstremis.

“AS tidak bisa mengklaim membawa perdamaian dengan cara memaksakan perang,” ujarnya.

Terkait situasi di Gaza, Nikzad menilai isu Palestina adalah tolok ukur sejati komitmen dunia terhadap hak asasi manusia, sambil mengutuk diamnya negara-negara Barat terhadap genosida yang dilakukan Israel.

Iran, lanjutnya, mendukung setiap inisiatif global yang bertujuan menghentikan agresi Israel, mengakhiri pendudukan, serta mengembalikan hak menentukan nasib sendiri rakyat Palestina, termasuk pendirian negara merdeka dengan Yerusalem (al-Quds) sebagai ibu kotanya.

Nikzad juga menekankan bahwa meski menghadapi sanksi dan tekanan selama puluhan tahun, Iran tidak pernah tunduk pada tekanan ekonomi dan politik. Ia menyerukan sistem hubungan internasional baru yang berlandaskan dialog, saling menghormati, dan kerja sama yang adil, karena “era hegemoni telah berakhir.”

Menutup pidatonya, Nikzad menyoroti pentingnya peran parlemen sebagai “arsitek perdamaian, bukan penonton perang”, dan menyatakan dukungan penuh Iran terhadap Deklarasi Islamabad sebagai model bagi tata kelola etis, perdamaian, dan pembangunan berkelanjutan.

Konferensi ISC 2025 mengangkat tema “Peace, Security, and Development” dan dihadiri oleh delegasi dari berbagai negara yang menyerukan solusi berkeadilan untuk stabilitas kawasan.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI