PVMBG Ungkap Hasil Penyelidikan Pergerakan Tanah di Sekitar Gunung Marapi

Laporan: Tio Pirnando
Sabtu, 25 Mei 2024 | 21:31 WIB
Banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumbar. (SinPo.id/Antara)
Banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumbar. (SinPo.id/Antara)

SinPo.id - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, melaporkan hasil penyelidikan pendahuluan terkait pergerakan tanah di sekitar Gunung Marapi di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat (Sumbar).

"Pergerakan tanah berupa aliran bahan rombakan (banjir bandang) yang terjadi di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam merupakan aliran material encer berupa campuran material yang berasal dari endapan bongkah batu, pasir, abu vulkanik dan pohon," kata Kepala PVMBG Hendra Gunawan, Sabtu, 25 Mei 2024.

Hendra menjelaskan, banjir bandang itu dipicu tingginya intensitas curah hujan dengan durasi lama yang melanda hulu sungai di puncak Gunung Marapi. Untuk morfologi lokasi bencana dan sekitarnya berupa dataran hingga perbukitan bergelombang sedang hingga tinggi. 

Kemudian, daerah landaan banjir bandang berupa bentukan dataran kipas aluvial yang berada pada lereng bawah perbukitan. Ketinggian lokasi bencana bervariasi antara 460 sampai 1.290 meter di atas permukaan laut (MDPL). 

Selanjutnya, untuk geologi daerah terdampak banjir bandang merupakan dataran aluvial yang terdiri atas batuan-batuan hasil erosi dan rombakan. Material aliran bahan rombakan komponen utama berupa batuan berbentuk bulat, bulat menyudut, kayu, serta bongkah lava berkomposisi andesitik berukuran 50 sampai 100 sentimeter.

Bahkan, sebagian juga berupa bongkahan berukuran dua hingga tiga meter serta batuan berkomposisi andesitik ukuran pasir hingga bongkah dengan matrik berupa pasir dan endapan Lumpur. 

Berdasarkan peta geologi Gunung Marapi, batuan penyusun batuan vulkanik berupa lava, aliran piroklastik, dan produk tepra berupa jatuhan piroklastik serta lahar.

Menurut Hendra, dari hasil penyelidikan PVMBG, area terdampak banjir lahar dingin selama ini digunakan sebagai permukiman, pertanian hingga fasilitas umum seperti jalan, jembatan, dan fasilitas lainnya.

"Penggunaan lahan pada bagian atas merupakan hutan dan sebagian besar sudah terjadi perubahan menjadi ladang dan kebun. Kemudian, pada lereng bagian tengah digarap menjadi persawahan dan kebun atau ladang warga," ujarnya.

Berdasarkan peta prakiraan wilayah terjadinya pergerakan tanah di Sumatra Barat pada April, daerah bencana di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam termasuk berpotensi menengah hingga tinggi.

"Pada zona ini berpotensi terjadi aliran bahan rombakan dan pergerakan tanah atau longsoran terutama daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan," kata dia.sinpo

Komentar: