Anggota Kabinet Perang Israel Ancam 'Resign' Jika Pemerintah Tak Berhasil Bubarkan Hamas

Laporan: Galuh Ratnatika
Minggu, 19 Mei 2024 | 10:47 WIB
Anggota kabinet perang Israel, Benny Gantz. (SinPo.id/AP Photo)
Anggota kabinet perang Israel, Benny Gantz. (SinPo.id/AP Photo)

SinPo.id - Seorang anggota kabinet perang Israel, Benny Gantz, mengancam akan mengundurkan diri dari pemerintah jika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak mengadopsi rencana baru untuk perang di Gaza. 

Karena menurutnya, Israel belum mencapai tujuan untuk membubarkan Hamas dan mengembalikan sejumlah sandera yang diculik. Ancaman tersebut sekaligus meningkatkan perpecahan dalam kepemimpinan Israel.

Gantz, yang merupakan saingan politik Netanyahu, telah menetapkan enam poin rencana yang mencakup kembalinya sandera, mengakhiri kekuasaan Hamas, demiliterisasi Gaza, dan membentuk pemerintahan internasional untuk urusan sipil.

Selain itu, ia juga berencana untuk menormalisasi hubungan dengan arab saudi. Tetapi jika rancangan undang-undang tersebut tidak diadopsi pada 8 Juni 2024, maka ia mengancam akan mundur dari pemerintahan.

“Jika Anda memilih jalur fanatik dan membawa seluruh bangsa ke jurang kehancuran – kami akan terpaksa mundur dari pemerintahan,” kata Gantz, dilansir dari Sky News pada Minggu 19 Mei 2024.

Rencana enam poin Gantz muncul ketika Netanyahu berada di bawah tekanan yang semakin besar di berbagai bidang. Kelompok garis keras di pemerintahannya menginginkan serangan militer di kota paling selatan Gaza, Rafah, terus dilakukan dengan tujuan menghancurkan Hamas.

Namun, sekutu terpenting Israel, Amerika Serikat (AS), dan negara-negara lain telah memperingatkan agar tidak melakukan serangan terhadap kota di mana lebih dari separuh penduduk Gaza yang berjumlah 2,3 juta jiwa berlindung.

Sementara itu, banyak warga Israel yang menuduh Netanyahu mendahulukan kepentingan politik di atas segalanya. Karena mereka ingin Netanyahu menyetujui kesepakatan untuk membebaskan para sandera dan menghentikan pertempuran.sinpo

Komentar: