Risma Juara Kontroversi Minim Prestasi, Pengamat: Layak Direshuffle!

  • Laporan:

SinPo.id - Wacana perombakan kabinet Indonesia Maju dalam waktu dekat ini terus menuai spekulasi politik di kalangan masyarakat. Mengacu performa kinerja dan dampaknya terhadap masyarakat luas, nama Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini merupakan salah satu Menteri yang paling layak untuk direshuffle.

Begitu kata Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (4/12).

"Risma memang selama menjadi Menteri Sosial lebih banyak kontroversialnya daripada prestasinya. Karena itu, selayaknya Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengevaluasi Risma sebagai Menteri Sosial," kata Jamiluddin.

Menurut Jamiluddin, pembantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang lebih mengedepankan kontroversi ketimbang prestasi dinilai hanya akan menjadi beban negara dan pemerintahan.

Oleh karena itu, mantan Walikota Surabaya yang juga kader PDIP itu sangat layak untuk didepak dari kabinet Jokowi.

"Risma bukan membantu kabinet Jokowi, tapi justeru menjadi beban. Karena itu, Risma tampaknya menteri yang paling layak di reshuffle," pungkasnya.

Barubaru ini, Tri Rismaharini memaksa seorang anak penyandang disabilitas rungu wicara untuk berbicara di hadapan khalayak ramai saat peringatan Hari Disabilitas Internasional di kantor Kemensos, Jakarta, Rabu (1/12). 

Peristiwa itu bermula ketika Risma melihat lukisan pohon yang dibuat seorang anak disabilitas rungu wicara. Di atas panggung acara tersebut, Risma meminta anak itu untuk berbicara. 

"Kamu melukis pohon karena pingin kami semua tidak merusak bumi, kan. Kamu sekarang ibu minta bicara. Ndak pakai alat, kamu bicara," kata Risma kepada anak tersebut. 

Risma lantas menyodorkan mikrofon ke mulut anak laki-laki itu. Setelah sekian menit, sang anak tetap tak bisa menyebutkan sepatah kata pun. 

Tak lama berselang, seorang anak yang juga disabilitas rungu wicara mengajukan diri untuk ikut naik ke atas panggung. Anak itu bernama Stefanus, yang merupakan perwakilan dari Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin). 

Di atas panggung itu, Stefanus ternyata menyampaikan protes kepada Risma. "Saya mau bicara dengan ibu sebelumnya, bahwasanya anak tuli itu memang harus menggunakan alat bantu dengar, tapi tidak untuk dipaksa berbicara," kata Stefanus melalui penerjemah bahasa bicara isyarat. 

Stefanus mengaku kaget saat melihat Risma memaksa penyandang disabilitas rungu wicara untuk berbicara. Sebab, penyandang disabilitas rungu wicara biasanya berbicara dengan bahasa isyarat. 

"Karakter anak tuli itu bermacam-macam. Jadi ada yang bicaranya tidak jelas, ada yang memang dia tuli sejak kecil dan kemampuan bahasa isyaratnya pun beragam. Jadi itu yang harus dihargai," kata Stefanus, yang berdiri sekitar dua meter di samping Risma. 

Mendengar protes tersebut, Risma langsung mendekat dan merangkul Stefanus. Risma lantas bilang bahwa dirinya tak melarang anak disabilitas rungu wicara menyamping pikirannya lewat bahasa isyarat. Dirinya hanya ingin melatih kemampuan mereka berbicara. 

"Kenapa ibu paksa kalian untuk bicara? ibu paksa memang, supaya kita bisa memaksimalkan pemberian Tuhan kepada kita. Mulut, mata, telinga. Tapi saya berharap kita semua bisa mencoba," ucap Risma. 

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar