Fraksi PKS: Pemerintah Harus Berani Putuskan PPKM Tak Hanya Berlaku Mingguan

Laporan: Vera
Selasa, 10 Agustus 2021 | 10:10 WIB
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher/Net
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher/Net

SinPo.id - Pemerintah telah memutuskan PPKM Level 3 dan 4 kembali diperpanjang hingga 16 Agustus 2021 mendatang.

Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKS, Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah agar berani menentukan masa pembatasan terukur dan tidak membuat rakyat galau dengan kebijakan PPKM mingguan. 

"Penentuan kebijakan PPKM dalam masa satu minggu hanya membuat rakyat galau dan bingung karena  tidak tahu sampai kapan kondisi membaik.  Pemerintah seharusnya berani dan tegas menetapkan target waktu  pengendalian pandemi hingga situasi membaik," ujar Netty, Selasa (10/8).

Menurut Netty, pemerintah sebagai pengelola negara seharusnya mampu mengoptimalkan semua sumber daya di bawah otoritasnya untuk berani menyebutkan kapan situasi membaik, sehingga dapat memberikan rasa aman dan harapan pada rakyat. 

"Yakinkan masyarakat bahwa dengan strategi dan upaya yang dilakukan  pemerintah maka dalam waktu tiga  bulan ke depan, misalnya, kondisi akan membaik dan PPKM level 3-4  dapat dihentikan. Sebutkan dukungan apa yang diminta dari rakyat agar strategi pengendalian pandemi berhasil," kata dia. 

Jika pemerintah tidak mampu membangun rasa aman dan harapan pada rakyat akan membaiknya situasi, lanjut Netty, maka jangan salahkan rakyat jika PPKM diperpanjang namun rakyat malah abai dan tidak peduli. 

“Mayoritas indikator kesehatan saat ini menunjukkan bahwa PPKM Level 3-4 belum optimal dalam mengendalikan kasus Covid-19 di berbagai daerah. Positivity rate serta angka  kematian masih konsisten di atas 1.000," papar Netty. 

Netty mempertanyakan efektivitas langkah dan strategi pengendalian pandemi yang dilakukan pemerintah mengingat sudah lebih dari satu bulan penerapan PPKM Darurat dan PPKM Level 3 dan 4, namun indikator kesehatan di luar Jawa-Bali masih memprihatinkan. 

Data yang diterima Netty menyebutkan, angka kematian di luar Jawa-Bali, juga meningkat. Bahkan pada 5 Agustus, angka kematian di  Lampung  lebih tinggi ketimbang di Bali, DI Yogyakarta atau pun Banten. 

Netty juga menyinggung data rendahnya capaian testing di luar Jawa-Bali yang masih jauh di bawah standar WHO. Misalnya, Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku, yang mana  rasio tesnya hanya 0,9:1.000 penduduk per minggu. 

“Target testing adalah  400 ribu per hari, tapi sampai sekarang hanya mampu di angka 200 ribu  dan itu pun  lebih  terkonsentrasi di Jawa-Bali. Jangan sampai  kasus Covid-19 di sana seperti abu dalam sekam,” terang Netty. 

Soal vaksinasi Covid-19 juga menjadi sorotan Netty. 

"Vaksinasi harus berbasis kesehatan masyarakat  agar tujuan  mencapai herd immunity  segera tercapai.  Pastikan ketersediaan stok vaksin di daerah-daerah dan siapkan  skenario antisipasi kelangkaan vaksin akibat   munculnya varian delta plus yang banyak ditemukan di negara-negara produsen vaskin,” tegas Netty.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI