Yudi Latif Sebut Terorisme Miskin Mental

Laporan: Lilis
Selasa, 30 Maret 2021 | 16:45 WIB
Yudi Latif (Dok. Instagram)
Yudi Latif (Dok. Instagram)

sinpo, Pengamat politik Yudi Latif menyebut kemiskinan material memang bisa dekatkan seseorang pada kekufuran (kegelapan). Tetapi kemiskinan mental lebih gawat dari itu: nista di dunia dan akhirat. 

"Dalam miskin mental, orang tak bisa melihat sisi positif pengalaman hidupnya," katanya dalam akun Instagram yudi.latif, dikutip Selasa (30/3/2021).

Menurutnya, siapa tak bisa berdamai dengan masa lalu tak bisa melihat kebaikan hari ini. Siapa tak bisa lihat kebaikan hari ini, tak bisa lihat harapan kebahagiaan hidup mendatang di dunia. Siapa tak bisa lihat kebahagiaan hidup di dunia, berharap bisa raih kebahagiaan di akhirat dgn segera akhiri hidupnya.

"Orang miskin mental memang berani mati, tapi tak berani hidup. Padahal, tak ada jalan pintas menuju surga. Janji surgawi hanya bisa diraih lewat keberanian hidup, beramal kebajikan atasi rintangan dan tantangan zaman, demi memberi kebahagiaan hidup warga bumi," kata Yudi.

Menurutnya, dalam kemiskinan mental, ruang jiwa juga terlalu sempit untuk bisa menerima perbedaan. Kehadiran yang berbeda dipandang dengan kecurigaan permusuhan, yang harus disingkirkan dengan pengucilan dan penyerangan.

"Dalam aksi teroris, kebencian pada perbedaan dan jalan pintas menuju surga menyatu dalam aksi bom bunuh diri. Pekikannya, “Hidup mulia atau mati syahid”. Kenyataannya, “Hidup tak mulia, mati pun tak syahid”. Kebencian pada hidup membuat hidupnya tak bisa mulia," kata Yudi.

Menurutnya, siapa tak bisa hidup mulia di dunia tak mampu kobarkan kesyahidan (kesungguhan) jelang kematian —dgn berani mengolah kehidupan; malah, memamerkan kepengecutan dgn bunuh diri dan bunuh orang. Orang yg mati syahid wariskan kebahagiaan dan kebaikan pd kehidupan. Orang yg mati pengecut, mewariskan kesengsaraan dan keburukan pd kehidupan.

"Terorisme bukanlah sebab, melainkan korban dari kemiskinan (material dan mental). Seperti pernah diingatkan dlm Pesan Ramadhan Vatikan, “Kemiskinan telah menodai dan merendahkan martabat manusia/kemanusiaan dan tidak jarang menjadi penyebab keterasingan, kemarahan bahkan kebencian dan hasrat untuk membalas dendam.," katanya.

"Betapapun kita benci terorisme, solusinya tak cukup dengan kutukan. Kita perlu menumpas akarnya dengan meningkatkan kualitas dan kecerdasan hidup secara berkeadilan. Diingatkan oleh H.G. Wells, 'Sejarah kian jadi arena adu cepat antara pendidikan dan prahara'," katanya.sinpo

Komentar: