Golkar: Polemik Film Pesta Babi Harus Jadi Momentum Perkuat Perspektif Kebangsaan

Laporan: Galuh Ratnatika
Senin, 08 Juni 2026 | 16:36 WIB
Waketum Partai Golkar Idrus Marham (SinPo.id/ Galuh Ratnatika)
Waketum Partai Golkar Idrus Marham (SinPo.id/ Galuh Ratnatika)

SinPo.id -  Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik Idrus Marham menilai polemik film dokumenter Pesta Babi harus dapat menjadi momentum untuk memperkuat cara pandang kebangsaan dalam melihat berbagai agenda pembangunan di daerah, termasuk di Merauke, Papua Selatan.

Menurutnya, demokrasi memberikan ruang yang luas bagi setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat, melakukan penelitian, advokasi, hingga menghasilkan karya kreatif seperti film dokumenter. Namun, kebebasan tersebut harus sejalan dengan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi yang akurat kepada publik.

"Pada prinsipnya tidak ada larangan dalam berkreativitas, membuat film, melakukan advokasi, penelitian, ataupun menyampaikan kritik. Itu adalah hak setiap warga negara. Tetapi yang juga harus dijaga adalah komitmen terhadap fakta, data, dan kebenaran yang terjadi di lapangan," kata Idrus, di Jakarta, Senin, 8 Juni 2026.

Ia mengatakan, kritik yang konstruktif, dapat berfungsi sebagai mekanisme koreksi sekaligus masukan bagi pemerintah dalam menyempurnakan berbagai kebijakan publik. Namun sebaliknya, narasi yang dibangun dari informasi yang tidak utuh, berpotensi menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.

Oleh sebab itu, kata Idrus, publik harus dapat membedakan antara kritik yang berbasis fakta dan data dengan narasi yang lahir dari kesimpulan yang belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya.

"Patut disadari, sudah terlalu lama kesadaran kolektif kita diobok-obok oleh pola pikir yang secara halus tetapi terus-menerus menguatkan rasa nafsi-nafsi kedaerahan. Seolah-olah loyalitas pertama dan terakhir seseorang hanya kepada daerah asalnya, bukan kepada Indonesia," tuturnya.

Pola pikir semacam itu dinilai masih terlihat dalam cara sebagian masyarakat memandang Indonesia berdasarkan batas-batas geografis dan identitas daerah masing-masing. Akibatnya, muncul anggapan bahwa suatu wilayah hanya menjadi milik kelompok masyarakat tertentu berdasarkan asal-usul daerah.

Padahal, lanjut Idrus, para pendiri bangsa membangun Indonesia di atas kesadaran bahwa seluruh wilayah Nusantara merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, baik secara politik, ekonomi, sosial, maupun budaya.

"Kerangka berpikir seperti itu bukan sekadar naif, tetapi sangat berbahaya karena menggerogoti sendi paling fundamental dari cita-cita kemerdekaan kita, yaitu persatuan Indonesia," ungkapnya.

Dengan demikian, pihaknya berharap polemik yang berkembang terkait film Pesta Babi dapat menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat komitmen terhadap fakta, data, dan semangat persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI