100 Hari Perang Iran, Dukungan Publik AS terhadap Trump Terus Merosot
SinPo.id - Memasuki hari ke-100 sejak dimulainya perang antara Amerika Serikat dan Iran, Presiden Donald Trump menghadapi tantangan besar di dalam negeri. Sejumlah survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak mendukung konflik tersebut dan menilai perang justru merugikan kepentingan nasional.
Konflik yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 terus menjadi perdebatan di tengah masyarakat. Meski pertempuran besar telah mereda setelah tercapainya gencatan senjata pada awal April, ketegangan di kawasan Teluk masih berlangsung dan dampaknya mulai dirasakan oleh warga Amerika.
Profesor Perdamaian dan Pembangunan dari University of Maryland, Shibley Telhami, mengatakan hasil berbagai survei menunjukkan hanya sedikit warga Amerika yang percaya perang dengan Iran memberikan manfaat bagi negaranya.
“Yang sangat jelas adalah hanya sedikit warga Amerika yang berpikir bahwa perang dengan Iran melayani kepentingan Amerika Serikat,” ujar Telhami.
Hasil jajak pendapat University of Maryland Critical Issues Poll yang dirilis pekan ini menunjukkan hanya 16 persen pemilih Amerika yang menilai negaranya sedang menang atau telah memenangkan perang.
Sebaliknya, mayoritas responden menilai konflik tersebut memberikan lebih banyak dampak negatif dibandingkan manfaat bagi kepentingan Amerika Serikat.
Bahkan, sekitar 33 persen pemilih Partai Republik menyatakan perang lebih merugikan daripada menguntungkan. Sementara hanya 25 persen pemilih Republik yang menilai dampaknya lebih positif.
Temuan tersebut dinilai mengejutkan karena menunjukkan mulai munculnya keraguan dari basis pendukung Trump sendiri terhadap kebijakan luar negeri pemerintahannya.
“Ini merupakan titik balik yang besar karena penilaian negatif terhadap perang kini juga muncul di kalangan Partai Republik, baik pemilih muda maupun tua,” kata Telhami.
Selain persoalan politik, perang juga mulai memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel menyebabkan harga minyak dan gas dunia melonjak.
Kondisi tersebut turut meningkatkan biaya hidup masyarakat Amerika dan mendorong tekanan inflasi.
Survei Institute for Global Affairs (IGA) menunjukkan 79 persen pemilih Amerika meyakini perang telah memengaruhi kenaikan biaya hidup di negara mereka.
Bahkan hanya 24 persen responden yang percaya konflik tersebut membuat Amerika Serikat menjadi lebih aman.
Direktur Program Institute for Global Affairs, Jonathan Guyer, menyebut perang Iran menjadi salah satu isu luar negeri yang paling tidak populer dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini adalah perang yang sangat tidak populer. Memang sedikit lebih didukung oleh pemilih Republik dibanding Demokrat, tetapi tetap ada tingkat penolakan yang cukup tinggi,” ujarnya.
Meski menghadapi kritik, Trump tetap mempertahankan kebijakannya. Ia berulang kali menegaskan bahwa tujuan utama pemerintahannya adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Trump bahkan menyatakan faktor ekonomi maupun dampak politik menjelang pemilu paruh waktu November 2026 bukan pertimbangan utama dalam mengambil keputusan terkait Iran.
“Saya tidak memikirkan kondisi keuangan warga Amerika. Saya hanya memikirkan satu hal, yaitu kita tidak boleh membiarkan Iran memiliki senjata nuklir,” kata Trump dalam pernyataan yang dikutip berbagai media Amerika.
Namun sejumlah analis menilai sikap tersebut berisiko memperburuk posisi politik Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu.
Partai Demokrat saat ini berharap dapat merebut kembali kendali Kongres. Jika berhasil menguasai DPR dan Senat, agenda politik Trump selama sisa masa pemerintahannya berpotensi mengalami hambatan besar.
Menurut Telhami, perang Iran kini bukan lagi sekadar isu kebijakan luar negeri, melainkan telah berubah menjadi persoalan ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat.
“Ini sekarang sudah menjadi isu dapur. Bukan lagi sekadar konflik yang terjadi jauh dari wilayah Amerika,” ujarnya.
Pengamat juga menyoroti bahwa pemerintahan Trump tidak melakukan kampanye publik yang panjang sebelum memulai operasi militer terhadap Iran.
Berbeda dengan invasi Irak pada 2003 yang didahului berbagai upaya membangun dukungan publik, serangan terhadap Iran dilakukan tanpa proses persuasi yang luas kepada masyarakat maupun Kongres.
Di sisi lain, Trump selama kampanye pemilu dikenal sebagai sosok yang mengkritik keterlibatan militer Amerika di Timur Tengah dan mengusung citra sebagai presiden yang mengedepankan perdamaian.
Karena itu, sebagian pemilih menilai kebijakan perang Iran bertentangan dengan pesan politik yang selama ini disampaikan Trump kepada publik.
Dengan kondisi ekonomi yang masih tertekan, harga energi yang tinggi, serta dukungan publik yang terus melemah, perang Iran diperkirakan akan menjadi salah satu isu utama yang mewarnai pertarungan politik Amerika Serikat menjelang pemilu paruh waktu 2026.
