Wamentan Gaungkan Revolusi Susu untuk Anak Indonesia

Laporan: Tio Pirnando
Sabtu, 06 Juni 2026 | 19:55 WIB
Wakil Menteri Petanian RI Sudaryono. (SinPo.id/ Dok. Kementan)
Wakil Menteri Petanian RI Sudaryono. (SinPo.id/ Dok. Kementan)

SinPo.id - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengajak semua pihak untuk gaungkan revolusi susu sebagai salah satu sumber protein hewani dalam mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak-anak Indonesia. Pemerintah berkomitmen memperkuat sektor persusuan nasional melalui peningkatan populasi sapi perah, produksi susu dalam negeri, serta konsumsi susu masyarakat. 

"Semua hadir untuk kita selenggarakan peringatan Hari Susu Nusantara. Intinya apalagi, susu ini kandungan proteinnya tinggi, diserap tubuh dengan baik dan salah satu sumber protein yang bagus untuk tumbuh kembang baik fisik maupun kecerdasan otak bagi generasi kita," kata Sudaryono dalam peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) 2026 di Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2026. 

Menurut Sudaryono, pembangunan sektor persusuan bukan hanya soal produksi dan ekonomi, tetapi juga investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. 

Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, mengenai pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak, menjadi prioritas strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. "Ini juga menjadi momentum penting untuk membangkitkan sektor persusuan nasional seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis," imbuhnya. 

Dia memaparkan, saat ini pemerintah fokus pada dua agenda utama, yakni meningkatkan produksi susu nasional dan meningkatkan konsumsi susu masyarakat, terutama anak-anak.

"Tentu saja sekarang ada MBG. Produksi susu kita memang masih ada sebagian yang impor. Nah, kita ingin tingkatkan dua hal. Yang pertama adalah bagaimana meningkatkan produksi susu dengan lebih banyak sapi perahnya, lebih banyak kita datangkan. Yang kedua adalah meningkatkan konsumsi susu per kapita untuk anak-anak kita khususnya," ujarnya.

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu menekankan bahwa manfaat susu memang tidak bisa dirasakan secara instan, tetapi memberikan dampak besar dalam jangka panjang terhadap kualitas SDM.

"Minum susu hari ini pinternya nggak langsung besok. Tapi pinternya itu nanti bertahap, lama-lama jadi tambah pintar, orangnya tambah kuat dan seterusnya. Jadi memang protein, protein, protein," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa gagasan memperkuat konsumsi susu sebenarnya telah lama menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Jauh sebelum menjabat Presiden maupun Menteri Pertahanan, Prabowo telah menggagas Gerakan Revolusi Putih yang mendorong pemenuhan gizi masyarakat melalui konsumsi susu.

"Bahkan dulu Pak Presiden kita Pak Prabowo sebelum menjadi Presiden, waktu masih mengelola Gerindra, kita bikin Gerakan Revolusi Putih. Jadi memang sudah lama perhatian terhadap susu dan gizi masyarakat ini," ujarnya.

Di sisi produksi, Sudaryono mengakui tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah masih terbatasnya jumlah sapi indukan, khususnya sapi perah. Teknologi reproduksi dan ketersediaan bibit sudah cukup memadai, namun jumlah ternak hidup masih perlu ditingkatkan secara signifikan.

"Kita ini kurang sapi induknya. Kalau sperma kemudian bank spermanya kita sudah punya banyak. Baik daging maupun susu, yang kurang itu adalah sapi hidupnya. Memang mesti kita datangkan," jelasnya.

Untuk itu, pemerintah terus mendorong investasi swasta dan BUMN mendatangkan sapi perah dari berbagai negara. Sejumlah komitmen investasi bahkan sudah mulai berjalan dengan skala ribuan hingga puluhan ribu ekor.

"Sudah beberapa ada komitmen, ada yang 10 ribu ekor, ada yang 5 ribu ekor. Dan saya sebagai Wakil Menteri dan Ketua Umum HKTI ingin HKTI itu nggak cuma omong-omong, tapi ingin kasih contoh. Mungkin 100, 200 atau 150 ekor, kita mulai dari diri kita sendiri," ungkapnya.

Sudaryono menyatakan, pengembangan sapi perah harus dilakukan di wilayah yang memiliki iklim sesuai, terutama daerah dataran tinggi dengan suhu relatif sejuk, seperti Lembang, Boyolali, Baturaden, Pasuruan, dan Blitar. Selain itu, pemerintah juga tengah menjajaki pengembangan sapi perah tropis dari Brasil yang dinilai lebih adaptif terhadap iklim Indonesia.

"Kita lagi uji coba juga, katanya ada sapi perah tropis dari Brasil. Kita juga lagi jajaki itu semua. Intinya adalah bagaimana sapinya tambah banyak, susunya diproduksi tambah banyak, dan diminum lebih banyak. Itu saja," tukasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI