Kasus Love Scam Rp41 Miliar, DPR: Perlu Ada Edukasi Secara Masif

Laporan: Galuh Ratnatika
Jumat, 05 Juni 2026 | 21:16 WIB
Anggota Komisi III DPR RI Abdullah (SinPo.id/ Dok. PKB)
Anggota Komisi III DPR RI Abdullah (SinPo.id/ Dok. PKB)

SinPo.id - Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, meminta Indonesia Anti Scam Centre (IASC) untuk meningkatkan kampanye edukasi publik dan literasi digital mengenai berbagai modus penipuan daring, termasuk love scam, secara masif dan terkoordinasi.

Hal itu ia sampaikan merespons terungkapnya kasus love scamming dengan metode pig butchering yang diduga melibatkan pelaku dari dalam dan luar negeri dengan total kerugian mencapai sekitar Rp41 miliar dalam kurun waktu 10 bulan.

“Kasus Sukoharjo menunjukkan bahwa penindakan saja tidak cukup. Edukasi dan literasi anti-scam harus ditingkatkan secara jauh lebih masif," kata Abdullah, dalam keterangan persnya, dikutip Jumat, 5 Juni 2026.

"Masyarakat perlu memahami sejak awal bagaimana pelaku membangun hubungan emosional, memanipulasi kepercayaan korban, lalu mengarahkan mereka pada investasi fiktif,” imbuhnya.

Menurutnya, IASC juga perlu memperluas jangkauan kampanye anti-scam agar tidak hanya menjangkau masyarakat perkotaan, tetapi juga daerah-daerah dengan tingkat literasi digital yang masih beragam.

Edukasi juga dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui media sosial, aplikasi perbankan, pesan peringatan transaksi, sekolah, kampus, kantor pemerintahan, komunitas masyarakat, hingga iklan layanan masyarakat lintas platform.

“Scam modern tidak selalu datang dengan ancaman atau kekerasan. Banyak korban justru merasa sedang menjalin hubungan yang tulus. Karena itu, literasi psikologis dan literasi digital sama pentingnya dengan penegakan hukum,” ungkapnya.

Pasalnya, kata Abdullah, banyak korban yang terlambat menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi. Ketika laporan masuk, aliran dana hasil penipuan kerap sudah berpindah melalui berbagai rekening, dompet digital, atau platform lain.

“Semakin cepat masyarakat mengenali tanda-tanda penipuan, semakin besar peluang kerugian dapat dicegah. Di sinilah peran edukasi publik menjadi sangat strategis,” jelasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI