Kemenperin Nilai Dampak Pelemahan Rupiah Terbatas pada Industri Berbasis Impor

Laporan: Sigit Nuryadin
Jumat, 05 Juni 2026 | 01:15 WIB
Ilustrasi bongkar muat peti kemas (SinPo.id/ Dok. Pelindo)
Ilustrasi bongkar muat peti kemas (SinPo.id/ Dok. Pelindo)

SinPo.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat belum mengganggu kinerja industri nasional secara signifikan. Pemerintah menyebut mayoritas aktivitas produksi dan transaksi industri dalam negeri masih menggunakan mata uang rupiah.

Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, mengatakan dampak fluktuasi kurs terutama dirasakan oleh industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Namun secara umum, sektor manufaktur nasional dinilai memiliki daya tahan yang cukup kuat.

“Kalau sekarang kan industri dalam negeri pasti belanjanya rupiah, enggak terlalu masalah. Paling ada beberapa bahan baku yang transaksinya menggunakan US dolar,” kata Faisol, Kamis, 4 Juni 2026.

Menurut dia, dominasi transaksi dalam mata uang domestik membuat sebagian besar industri tidak terpapar langsung terhadap gejolak nilai tukar. Karena itu, kata dia, pelemahan rupiah belum menjadi ancaman utama bagi aktivitas produksi nasional.

Kendati demikian, Faisol mengakui sejumlah sektor tetap menghadapi tekanan karena masih mengandalkan bahan baku impor yang pembayarannya menggunakan dolar AS. 

"Kondisi tersebut membuat biaya produksi berpotensi meningkat ketika nilai tukar rupiah melemah," ungkap dia. 

Untuk mengurangi risiko tersebut, lanjut Faisol, pemerintah mendorong diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi perdagangan internasional. 

Dia mencontohkan sebagian perdagangan Indonesia saat ini telah menggunakan renminbi sehingga ketergantungan terhadap dolar AS mulai berkurang.

“Tapi saya lihat kalau trade balance kita sepertiganya itu menggunakan renminbi misalnya, itu pengaruh US dolar-nya juga bisa diantisipasi,” ujar Faisol. 

Faisol juga menuturkan, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna menjaga stabilitas sektor industri dari dampak fluktuasi kurs. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan terutama untuk membantu industri yang masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri.

“Kita sudah mitigasi supaya tidak banyak terdampak oleh kenaikan atau turunnya nilai tukar rupiah,” tuturnya. 

Selain itu, kata dia, Kemenperin juga terus berkomunikasi dengan pelaku industri untuk mencari solusi atas berbagai tantangan yang muncul akibat pergerakan nilai tukar.

Menurut Faisol, pemerintah terbuka untuk membahas berbagai opsi kebijakan yang dapat menjaga daya saing industri nasional di tengah dinamika ekonomi global.

“Apapun itu kan kita bisa cari jalan keluar,” tandasnya. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI