Pertumbuhan Ekonomi Tak Cukup, SBY Ingatkan Pentingnya Bangun Ketahanan Masyarakat

Laporan: Tio Pirnando
Kamis, 04 Juni 2026 | 17:28 WIB
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SinPo.id/ Tangkapan layar)
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SinPo.id/ Tangkapan layar)

SinPo.id - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai, tantangan negara-negara berkembang saat ini bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melainkan membangun ketangguhan pertumbuhan, inklusif, dan berkelanjutan. Karena, capaian ekonomi yang mengesankan tidak selalu berbanding lurus dengan stabilitas sosial jika kesenjangan terus melebar.

"Pertumbuhan saja tidak lagi cukup. Sebuah negara mungkin mampu mencapai angka-angka ekonomi yang mengesankan, tetapi tetap mengalami ketimpangan yang semakin melebar, menurunnya kepercayaan, dan fragmentasi sosial," kata SBY dalam The 2026 Asia Grassroots Forum by Amartha di Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.

SBY menyampaikan, membangun ketahanan masyarakat di tengah ketegangan geopolitik, perubahan iklim, dan kecepatan perkembangan teknologi, merupakan tantangan saat ini. Jadi, bukan hanya mendorong pada pencapaian angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Dan, keberhasilan pembangunan harus diukur dari kemampuan negara menciptakan partisipasi ekonomi yang lebih luas dan menjaga kepercayaan sosial. Termasuk memastikan manfaat pertumbuhan dirasakan secara merata oleh masyarakat.

Selain itu, SBY mengingatkan bahwa dunia saat ini tengah memasuki era ketidakpastian, mulai dari meningkatnya rivalitas geopolitik, perang dan konflik di berbagai wilayah, dan perubahan rantai pasok global.

"Kepemimpinan yang kuat adalah tentang menjaga kepercayaan publik dan menciptakan peluang di tengah berbagai disrupsi," kata SBY.

Bagi SBY, prinsip kepemimpinan dibutuhkan di tengah ketidakpastian. Di mana, pemimpin harus tetap tenang saat menghadapi situasi sulit. Hal ini berdasarkan pengalamannya memimpin Indonesia di masa krisis dan transisi, termasuk dampak krisis Asia 1997-1998, tsunami Aceh pada 2004, hingga krisis keuangan global 2008,

"Ketakutan menyebar dengan cepat pada masa-masa sulit. Kepanikan melemahkan institusi. Seorang pemimpin harus tetap tenang, jujur dan memiliki arah yang jelas," tukasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI