Dari Sampah hingga Perumahan, JFF 2026 Kupas Beragam Tantangan Jakarta

Laporan: Sigit Nuryadin
Rabu, 03 Juni 2026 | 21:49 WIB
Kepala Bappeda DKI Jakarta Atika Nur Rahmania (Foto: SinPo.id/Pemprov DKI Jakarta)
Kepala Bappeda DKI Jakarta Atika Nur Rahmania (Foto: SinPo.id/Pemprov DKI Jakarta)

SinPo.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menyatakan seluruh gagasan dan masukan yang muncul dalam Jakarta Future Festival (JFF) 2026 akan menjadi bagian dari proses perencanaan pembangunan kota. Festival yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada 5–7 Juni 2026 itu disebut sebagai wadah partisipasi publik dalam merumuskan masa depan Jakarta.

Kepala Bappeda DKI Jakarta Atika Nur Rahmania mengatakan pembangunan kota membutuhkan keterlibatan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari warga, komunitas, akademisi, pelaku usaha hingga generasi muda.

“Jakarta Future Festival adalah festival perencanaan kota yang berupaya menghimpun energi dari berbagai unsur masyarakat. Kita bersama-sama mencurahkan ide dan gagasan untuk membangun Jakarta,” kata Atika dalam konferensi pers di Ruang Pola Bappeda, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu, 3 Juni 2026.

JFF 2026 mengangkat tema Navigating Resilience. Tema tersebut dipilih untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi Jakarta, seperti perubahan iklim, pengelolaan sampah, tata kelola air, perumahan, energi terbarukan, hingga upaya membangun kota yang lebih tangguh dan adaptif.

Menurut Atika, hasil diskusi, lokakarya, dan berbagai forum yang berlangsung selama festival akan didokumentasikan sebagai bahan masukan kebijakan pemerintah daerah.

“Seluruh acara terdokumentasi, termasuk masukan kebijakan yang nantinya bisa menjadi bagian dari perencanaan kota,” ujarnya.

Dia juga menyebut, Bappeda juga akan merangkum hasil penyelenggaraan festival dalam sebuah buku yang dapat diakses publik melalui kanal resmi lembaga tersebut.

“Buku hasil JFF juga dapat diunduh gratis melalui situs resmi kami,” kata Atika.

Pada penyelenggaraan tahun ketiganya, kata dia, JFF menghadirkan sejumlah forum diskusi yang membahas isu-isu perkotaan. Di antaranya sesi Jakarta Forecast yang mengulas proyeksi Jakarta ke depan, Urban Talks yang membahas persoalan kota, serta Urban Policy Lab yang mempertemukan komunitas pemikir muda untuk merumuskan solusi atas berbagai tantangan perkotaan.

Untuk memperkaya perspektif diskusi, lanjut dia, Bappeda mengundang 18 profesor dari sejumlah universitas di Amerika Serikat, Eropa, dan Inggris. 

"Mereka akan berpartisipasi dalam berbagai sesi yang membahas isu global dan lokal terkait pembangunan kota," tutur Afika. 

“Mereka akan bergabung dalam beberapa sesi dan berdiskusi bersama para pakar di Urban Knowledge Hub. Jadi, isu global juga akan dibahas bersama pembicara lokal dan internasional,” tambahnya. 

Selain forum kebijakan, JFF 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan yang menyasar kelompok masyarakat yang lebih luas. Salah satunya program JFF for Kids yang mengenalkan isu perkotaan kepada anak-anak melalui kerja sama dengan Visinema dan Rekosistem.

Festival ini juga menggelar Urban Debate bagi pelajar SMA serta menghadirkan puluhan aktivitas komunitas. Berbagai pameran, pertunjukan seni, dan penampilan musisi turut menjadi bagian dari rangkaian acara yang terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI