Kemendikdasmen Berikan Bantuan pada Murid Terdampak Kebakaran di Kemayoran
SinPo.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bergerak cepat memberikan dukungan nyata bagi murid serta tenaga pendidik yang terdampak musibah kebakaran di kawasan Pasar Jiung, Kemayoran, Jakarta Pusat. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keberlangsungan layanan pendidikan dan memulihkan semangat belajar murid agar dapat segera kembali mengikuti kegiatan sekolah dengan optimal.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, meninjau langsung SDN Kebon Kosong 09 untuk menyerahkan bantuan perlengkapan sekolah (school kit) serta memberikan layanan dukungan psikososial. "Ini adalah bagian dari kepedulian dan komitmen kami atas arahan Bapak Presiden untuk segera memberikan perhatian kepada murid yang terdampak dan juga keluarganya," ujar Abdul Mu’ti, Rabu, 3 Juni 2026.
Dalam kunjungan tersebut, sebanyak 20 murid SDN Kebon Kosong 09 yang terdampak menerima bantuan paket school kit berupa tas, seragam merah-putih, dan perlengkapan sekolah, serta santunan sebesar Rp200 ribu per murid. Secara keseluruhan, Kemendikdasmen menyiapkan 139 paket school kits dan santunan yang akan disalurkan kepada seluruh murid terdampak di lingkungan sekolah maupun di kawasan sekitar musibah.
Selain dukungan bagi murid, Kemendikdasmen juga memberikan perhatian khusus bagi tenaga pendidik dan kependidikan. Bantuan santunan masing-masing sebesar Rp10 juta diserahkan kepada Mariana Siregar (guru SDN Kebon Kosong 02), Aidil (tenaga kependidikan SDN Utan Panjang 01), serta Sudarni (guru PAUD Mawar) yang turut menjadi korban terdampak kebakaran.
Sudarni, guru PAUD Mawar yang turut kehilangan tempat tinggal akibat musibah ini, menyampaikan rasa syukur atas perhatian yang diberikan. "Bantuan ini sangat bermanfaat bagi saya yang harus memulai kembali dari nol. Perhatian dari Kemendikdasmen ini menjadi motivasi besar bagi kami para pendidik untuk segera bangkit dan memulihkan kondisi fisik maupun psikologis pascamusibah," ungkap Sudarni.
Terkait pemulihan psikologis, Kemendikdasmen menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk memberikan pendampingan psikososial. Abdul Mu’ti berharap kolaborasi ini dapat memberikan rasa tenang dan menumbuhkan optimisme bagi para murid. "Kami memberikan mereka optimisme bahwa musibah ini bukan akhir segalanya, tapi bagian dari ujian agar kita dapat mengatasinya dengan kebersamaan," tambah Mu’ti.
Menjamin hak pendidikan tetap terpenuhi, Mendikdasmen memastikan bahwa bagi murid yang terkendala mengikuti tes akhir semester akibat musibah, pihak sekolah akan memberikan kesempatan untuk mengikuti tes susulan. "Tidak perlu ada kekhawatiran dengan musibah ini mereka kehilangan kesempatan belajar. Kami terus bersinergi dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk memastikan hak belajar murid tetap terjaga," pungkasnya.
Dukungan Psikososial Bersama HIMPSI
Dalam upaya pemulihan, Kemendikdasmen berkolaborasi dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) melalui Korps Relawan Bencana (KRESNA). Berdasarkan hasil Rapid Psychological Assessment terhadap 20 murid yang terdampak langsung, tim KRESNA menemukan dampak yang cukup signifikan pada aspek fisik, emosi, dan kognitif. Yuria Ekalitani dari tim KRESNA menjelaskan bahwa banyak murid mengalami kesulitan tidur, penurunan nafsu makan, hingga rasa cemas dan kesulitan konsentrasi akibat hilangnya ruang aman dan rutinitas mereka. Namun, Yuria mencatat bahwa murid-murid tersebut memiliki dukungan sosial (support system) yang kuat, yang akan menjadi modal utama dalam metode pemulihan.
Untuk merespons kondisi tersebut, HIMPSI menekankan pentingnya layanan dukungan psikososial dalam fase pemulihan (trauma recovery) selama satu hingga tiga bulan ke depan. "Kami tidak menggunakan terminologi trauma healing di fase emergensi ini, melainkan layanan dukungan psikososial untuk membangkitkan kapasitas self-healing individu," jelas Yuria.
Penguatan kapasitas juga diberikan kepada guru dan tenaga kependidikan agar dapat menjadi first responder di lingkungan kelas. Wiene Dewi Toorisnawati dari tim KRESNA HIMPSI menjelaskan bahwa guru perlu dibekali keterampilan Psychological First Aid (PFA), layaknya P3K dalam penanganan medis. "Siapapun bisa memberikan dukungan psikologis, asalkan dibekali keterampilan yang tepat agar intervensinya sesuai dengan kebutuhan," ungkap Wiene.
Selaras dengan hal tersebut, Ketua Umum HIMPSI, Andik Matulessy, menegaskan pentingnya kolaborasi antara lembaga profesional dan pihak sekolah. "Kami melatih guru dan tenaga kependidikan agar mampu memberikan Psychological First Aid atau bantuan psikologis awal, sehingga mereka dapat mendeteksi perubahan perilaku anak di kelas secara lebih peka," tambah Andik.
