Idul Adha 2026, Pengamat Ajak Warga Bedakan Jadi Korban dan Kurban Keamanan Data

Laporan: Tio Pirnando
Rabu, 27 Mei 2026 | 12:31 WIB
Ilustrasi. (SinPo.id/Freepik)
Ilustrasi. (SinPo.id/Freepik)

SinPo.id - Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha menilai, Idul Adha 1447 H/2026 M mengajarkan satu nilai fundamental yang universal, pengorbanan yang dilakukan secara sadar dan ikhlas. Namun, masyarakat harus bisa membedakan menjadi korban dan berkurban jika dikontekskan dengan keamanan data pribadi hingga identitas digital. 

"Inilah semangat Idul Adha menjadi relevan. Masyarakat perlu diajak membedakan antara menjadi korban dan berkurban," kata Pratama dalam keterangannya, Rabu, 27 Mei 2026. 

Dia menjelaskan, menjadi korban berarti kehilangan data atau uang tanpa sadar dan tanpa izin. Seseorang yang data pribadinya bocor lantaran kelalaian penyedia layanan adalah korban. 

Sedangkan berkurban dalam konteks keamanan siber berarti secara sadar mengorbankan sedikit kenyamanan demi keamanan yang lebih besar. Antara lain, memasang autentikasi dua faktor memang merepotkan. 

Kemudian, mengganti password secara berkala memang tidak praktis. Memverifikasi setiap pesan WhatsApp yang mengatasnamakan bank atau lembaga resmi memang memakan waktu. "Tapi itu adalah pengorbanan kecil yang justru melindungi aset digital kita," ujarnya. 

Pratama menilai, budaya digital Indonesia masih sangat lemah dalam hal kesadaran ini. Banyak masyarakat yang masih tergiur dengan tawaran hadiah palsu, tautan mencurigakan, atau aplikasi yang meminta izin akses berlebihan. 

Pola ini mirip dengan hewan yang digiring ke tempat pemotongan tanpa sadar akan apa yang terjadi. Bedanya, dalam Idul Adha hewan kurban dipilih secara sadar oleh yang berkurban. Dalam dunia digital, rakyat sering menjadi pihak yang tidak pernah diajak berunding ketika data mereka diperdagangkan atau identitas mereka dipalsukan.

Untuk itu, lanjut dia, kesadaran ini harus dibangun dari hulu. Pemerintah melalui Komdigi dan BSSN perlu terus menggencarkan literasi keamanan siber. "Masyarakat perlu diedukasi dengan bahasa yang sederhana dan relevan, termasuk melalui momen-momen budaya seperti Idul Adha," ucapnya. 

Dia mengungkapkan, sepanjang 2025 hingga pertengahan 2026, Indonesia terus diguncang berbagai insiden kebocoran data. Mulai dari dugaan data diperjualbelikan di dark web, kebocoran platform e-commerce, lembaga keuangan, dan layanan publik. Dan, modus penipuan digital juga terus berevolusi, dari phishing klasik hingga deepfake berbasis kecerdasan buatan yang hampir tidak bisa dibedakan dari komunikasi asli

Karenanya, Idul Adha mengajarkan bahwa pengorbanan yang paling bernilai adalah yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan keikhlasan hati. Di era digital, pengorbanan itu bisa dimulai dari hal sederhana, memikirkan ulang sebelum mengklik tautan, meluangkan waktu untuk memverifikasi informasi, dan menyadari bahwa data pribadi adalah amanah yang harus dijaga. 

"Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk berubah dari sekadar korban menjadi pihak yang berkurban secara sadar demi keamanan siber Indonesia yang lebih baik," tukasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI