Dokter Haji Imbau Jemaah Siapkan “Apotek Mini” Selama Armuzna

Laporan: Sigit Nuryadin
Kamis, 21 Mei 2026 | 21:44 WIB
jemaah haji asal Indonesia di tanah suci. (SinPo.id/dok. Kemenhaj)
jemaah haji asal Indonesia di tanah suci. (SinPo.id/dok. Kemenhaj)

SinPo.id - Jemaah haji Indonesia diimbau menyiapkan perlengkapan kesehatan pribadi atau “apotek mini” menjelang pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). 

Langkah itu dinilai penting untuk membantu jemaah tetap sehat di tengah kepadatan dan tingginya aktivitas fisik selama fase puncak haji.

Dokter haji Indonesia, Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, mengatakan perlengkapan kesehatan perlu disimpan di dalam tas kecil yang selalu dibawa jemaah selama perjalanan Armuzna. 

Menurut dia, saat menuju Armuzna, koper besar jamaah akan ditinggal di hotel sehingga hanya perlengkapan penting yang dapat dibawa.

“Di Armuzna, kepadatan jemaah sangat tinggi dan jarak menuju pos kesehatan bisa terasa jauh. Karena itu jemaah sebaiknya memiliki P3K mandiri agar keluhan ringan bisa segera ditangani sebelum menjadi berat,” kata Fathi dalam keterangan resminya, Kamis, 21 Mei 2026.

Dia menjelaskan salah satu perlengkapan yang wajib dibawa adalah oralit untuk mengantisipasi dehidrasi akibat cuaca panas ekstrem di Tanah Suci. Risiko kehilangan cairan, menurut dia, terutama lebih tinggi dialami jemaah lanjut usia.

“Oralit ini bisa menjadi penyelamat saat tubuh mulai lemas, pusing, atau kehilangan cairan akibat panas,” ujarnya.

Selain oralit, lanjut Fathi, jemaah juga dianjurkan membawa pelembap berbahan petroleum jelly tanpa parfum untuk mencegah lecet pada paha dan tumit akibat berjalan jauh menuju lokasi lontar jumrah.

“Lecet kecil bisa menjadi masalah besar saat Armuzna karena jemaah harus banyak berjalan kaki,” kata dia.

Fathi juga menyarankan jemaah membawa obat pereda nyeri seperti parasetamol untuk mengatasi keluhan ringan, termasuk sakit kepala, pegal, maupun demam.

Menurut dia, jemaah yang memiliki penyakit bawaan harus memastikan obat rutin pribadi tersedia dengan stok minimal untuk lima hingga enam hari dan disimpan di tas Armuzna.

“Jangan sampai obat rutin tertinggal. Ini sangat penting terutama bagi jemaah yang memiliki penyakit bawaan,” tuturnya.

Selain itu, dia menganjurkan jemaah membawa perlengkapan tambahan seperti plester luka, obat maag, obat diare, hingga minyak kayu putih atau aromaterapi. 

"Perubahan pola makan, kelelahan, cuaca panas, dan kerumunan massa dinilai dapat memicu gangguan kesehatan ringan selama puncak haji," ucap Fathi. 

Fathi juga meminta seluruh obat dikemas dalam plastik klip bening agar mudah ditemukan dan terlindung dari air. Dia turut menyarankan jemaah membawa botol semprot air untuk membantu menurunkan suhu tubuh saat terpapar panas matahari.

“P3K mandiri ini menjadi salah satu bekal penting agar jemaah tetap sehat, kuat, dan mandiri selama menjalani puncak ibadah haji,” tandas Fathi.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI