Tips Haji

Jemaah Haji Gelombang 2 Diminta Waspadai Cuaca Ekstrem Setiba di Mekkah

Laporan: Tim Redaksi
Rabu, 20 Mei 2026 | 22:03 WIB
Jemaah haji Indonesia tiba di Arab Saudi (SinPo.id)
Jemaah haji Indonesia tiba di Arab Saudi (SinPo.id)

SinPo.id - Tim kesehatan haji mengingatkan jemaah haji Gelombang 2 agar segera beradaptasi dengan kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi setelah mendarat di Jeddah. 

Berbeda dengan Gelombang 1 yang sempat menjalani masa penyesuaian di Madinah, jemaah Gelombang 2 langsung menuju Mekkah untuk menjalankan umrah wajib sekaligus mempersiapkan diri menuju puncak ibadah haji.

Dalam Seri Kesehatan Haji #7 bertajuk “Aklimatisasi Cepat: Tips Bugar bagi Jemaah Gelombang 2”, petugas kesehatan haji Sektor 1 Daker Bandara, Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, menyebut jemaah Gelombang 2 menghadapi tantangan besar akibat perubahan suhu yang drastis.

“Jemaah Gelombang 2 tidak memiliki kemewahan waktu untuk beradaptasi. Dari suhu dingin kabin pesawat sekitar 20 derajat Celsius, mereka langsung menghadapi panas terik Mekkah yang bisa mencapai 45 hingga 50 derajat Celsius,” ujar Muhammad Fathi dalam edukasi kesehatan tersebut.

Menurutnya, perubahan suhu yang ekstrem tanpa adaptasi cukup dapat memicu sejumlah gangguan kesehatan. Risiko yang paling sering terjadi di antaranya heat exhaustion atau kelelahan akibat panas, penurunan fungsi organ karena dehidrasi, hingga gangguan stamina akibat kombinasi jet lag dan aktivitas ibadah yang padat.

“Tubuh yang tidak siap dapat mengalami pusing, mual, kelelahan, bahkan memperberat kerja jantung karena darah menjadi lebih kental akibat kekurangan cairan,” jelasnya.

Untuk mencegah kondisi tersebut, jemaah diminta mulai meningkatkan konsumsi air putih sejak dua hingga tiga jam sebelum pesawat mendarat di Jeddah. Langkah ini dinilai penting untuk membantu tubuh menjaga kestabilan suhu saat berpindah dari lingkungan dingin ke panas ekstrem.

Selain itu, jemaah diimbau tidak terburu-buru melaksanakan umrah wajib di bawah terik matahari. Muhammad Fathi menyarankan pelaksanaan umrah dilakukan pada malam hingga pagi hari setelah tubuh mendapatkan waktu istirahat yang cukup.

“Jangan memaksakan diri melakukan umrah wajib dalam kondisi letih. Ikuti arahan Kementerian Haji dan Umrah terkait waktu pelaksanaan yang aman,” ujarnya.

Setibanya di hotel, jemaah juga diminta memprioritaskan pemulihan stamina dibanding langsung mengejar ibadah di Masjidil Haram apabila kondisi tubuh belum fit. Menjaga kesehatan sejak awal disebut menjadi bagian penting agar jemaah siap menghadapi fase puncak haji di Arafah.

Untuk perlindungan tambahan, jemaah dianjurkan menggunakan payung dan sandal guna menghindari paparan panas berlebih. Kehilangan alas kaki atau terlalu lama terpapar matahari pada hari-hari pertama disebut dapat menurunkan kebugaran tubuh dalam jangka panjang.

Tim kesehatan juga menyarankan jemaah membawa botol semprot air untuk membasahi wajah dan masker bagian luar sebagai cara sederhana membantu menurunkan suhu tubuh dan menjaga kelembapan udara yang dihirup.

Selain air putih, jemaah dianjurkan mengonsumsi cairan yang mengandung elektrolit untuk mengganti mineral tubuh yang hilang akibat suhu panas dan aktivitas fisik.

Muhammad Fathi menegaskan masa awal kedatangan merupakan fase krusial bagi jemaah Gelombang 2. Adaptasi yang baik, kata dia, akan sangat menentukan kelancaran ibadah hingga puncak haji.

“Niat baik dan semangat ibadah harus diwujudkan dengan cara yang baik pula. Jangan biarkan impian haji terhambat karena terlalu menggebu di awal,” pungkasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI