Tips Haji

Jemaah Haji Diimbau Atasi Nyeri Telinga dan Jet Lag Selama Penerbangan ke Tanah Suci

Laporan: Tim Redaksi
Rabu, 20 Mei 2026 | 21:00 WIB
jemaah haji asal Indonesia di tanah suci. (SinPo.id/dok. Kemenhaj)
jemaah haji asal Indonesia di tanah suci. (SinPo.id/dok. Kemenhaj)

SinPo.id - Tim kesehatan haji mengingatkan jemaah agar memperhatikan kenyamanan dan kondisi tubuh selama penerbangan menuju Arab Saudi.

Langkah ini dinilai penting agar jemaah tiba dalam kondisi bugar dan siap menjalani rangkaian ibadah yang padat setelah mendarat.

Dalam Seri Kesehatan Haji #6 bertajuk “Terbang Nyaman, Mendarat Bugar”, petugas kesehatan haji Sektor 1 Daker Bandara, Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, menjelaskan bahwa perjalanan udara bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan fase penting untuk mempersiapkan fisik sebelum menjalankan ibadah di Tanah Suci.

“Kenyamanan di pesawat bukan sekadar agar tidak pegal, tapi merupakan strategi agar siap menghadapi rangkaian ibadah padat setelah mendarat,” ujar Muhammad Fathi dalam edukasi kesehatan haji.

Ia menyebut terdapat sejumlah gangguan yang kerap dialami jemaah selama penerbangan panjang, mulai dari nyeri telinga akibat perubahan tekanan udara (barotitis), gangguan tidur di kabin, hingga jet lag karena perbedaan waktu antara Indonesia dan Arab Saudi.

Menurutnya, nyeri telinga biasanya terjadi saat pesawat lepas landas atau mendarat akibat perubahan tekanan udara secara cepat. Kondisi ini dapat membuat telinga terasa tersumbat hingga memicu rasa sakit.

Untuk mengatasinya, jemaah disarankan tidak tidur saat pesawat mulai naik atau turun. Sebaliknya, mereka dianjurkan aktif menelan ludah, mengunyah permen, atau melakukan gerakan mengunyah agar tekanan di telinga lebih seimbang.

Jika keluhan masih berlanjut, jemaah dapat mencoba Metode Valsalva, yakni menutup hidung dan mulut rapat lalu meniup udara perlahan melalui hidung hingga terdengar bunyi “plop” di telinga.

Selain itu, Muhammad Fathi juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas tidur selama penerbangan. Kabin yang bising dan posisi kursi yang terbatas sering kali membuat jemaah sulit beristirahat, padahal tidur singkat tetap dibutuhkan untuk menjaga stamina.

“Tidur berkualitas meski hanya dua sampai tiga jam jauh lebih baik daripada terjaga sepanjang perjalanan,” ujarnya.

Untuk membantu tidur lebih nyaman, jemaah dianjurkan menggunakan bantal leher dan penutup mata guna mengurangi gangguan cahaya kabin. Posisi kursi juga disarankan diatur secara perlahan dan tetap memperhatikan kenyamanan penumpang lain.

Petugas kesehatan juga meminta jemaah menghindari konsumsi kopi, teh, soda, dan makanan pedas selama penerbangan. Minuman berkafein disebut dapat memicu tubuh kehilangan cairan lebih cepat, sementara soda dan makanan pedas berisiko menyebabkan perut tidak nyaman.

Terkait jet lag, jemaah dianjurkan segera menyesuaikan jam tangan dengan waktu Arab Saudi setelah pesawat lepas landas. Setibanya di Tanah Suci, paparan sinar matahari pagi dan pola tidur mengikuti waktu setempat dinilai membantu tubuh lebih cepat beradaptasi.

“Perjalanan udara adalah waktu untuk berhenti sejenak sebelum perjuangan fisik dimulai. Gunakan waktu ini untuk beristirahat secara maksimal,” kata Muhammad Fathi.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI