Tips Haji 2026

Jemaah Haji Harus Waspadai Serangan Jantung dan Sesak Napas Usai Penerbangan Panjang

Laporan: Tim Redaksi
Rabu, 20 Mei 2026 | 18:58 WIB
Pengusaha Nasional Yusuf Hamka bersama sejumlah tokoh di Arab Saudi (Foto: SinPo.id/Kemenhaj RI)
Pengusaha Nasional Yusuf Hamka bersama sejumlah tokoh di Arab Saudi (Foto: SinPo.id/Kemenhaj RI)

SinPo.id - Tim kesehatan haji mengingatkan jemaah agar mewaspadai risiko gangguan kesehatan serius seperti serangan jantung dan sesak napas setelah menempuh penerbangan panjang menuju Arab Saudi. 

Meski dinyatakan sehat dan layak terbang saat keberangkatan, kondisi fisik jemaah bisa berubah setelah mendarat akibat tekanan perjalanan udara yang panjang.

Dalam Seri Kesehatan Haji #5 bertajuk “Sehat dan Selamat Sejak di Udara Sampai di Darat”, petugas kesehatan haji Sektor 1 Daker Bandara, Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, menjelaskan bahwa kondisi kabin pesawat memiliki kadar oksigen lebih rendah dan udara yang kering, sehingga memaksa jantung bekerja lebih keras sekaligus meningkatkan risiko penyebaran infeksi.

“Risikonya nyata. Serangan jantung bisa terjadi akibat darah mengental karena kurang minum dan duduk diam selama 9–10 jam penerbangan. Jika terjadi sumbatan pada pembuluh darah jantung, gejalanya bisa berupa nyeri dada kiri, mual, muntah, keringat dingin, sakit ulu hati, hingga sesak napas,” kata Muhammad Fathi dalam edukasi kesehatan tersebut.

Selain risiko jantung, jemaah juga diingatkan terhadap ancaman pneumonia atau infeksi paru-paru. Udara kabin yang kering dinilai dapat menurunkan pertahanan alami saluran pernapasan sehingga mempermudah bakteri atau virus masuk ke paru-paru.

“Gejalanya berupa napas cepat, sesak, dan demam,” lanjutnya.

Untuk mengurangi risiko tersebut, jemaah diminta tetap aktif bergerak selama penerbangan. Petugas kesehatan menyarankan jemaah melakukan gerakan sederhana di kursi seperti memutar pergelangan kaki dan mengangkat lutut setiap satu jam, serta berjalan singkat di lorong pesawat setiap dua jam bila memungkinkan.

Selain itu, penggunaan masker selama penerbangan juga dianjurkan untuk mengurangi risiko penularan penyakit di ruang kabin yang tertutup.

Jemaah juga diimbau rutin minum air putih sedikit demi sedikit, minimal satu gelas setiap jam, guna menjaga cairan tubuh dan mencegah darah menjadi lebih kental. Sebaliknya, konsumsi kopi dan teh selama penerbangan sebaiknya dihindari karena dapat memicu dehidrasi dan membuat jantung berdebar lebih cepat.

Petugas kesehatan turut mengingatkan pentingnya menjaga suhu tubuh tetap hangat dengan menggunakan jaket dan kaus kaki, terutama untuk mencegah sesak atau kambuhnya gangguan pernapasan akibat suhu dingin di kabin.

Tak kalah penting, jemaah diminta segera melapor kepada petugas kesehatan apabila mengalami nyeri dada, sesak napas, atau pusing berat selama penerbangan.

“Penanganan terlambat satu menit bisa berakibat fatal saat mendarat,” tegas Muhammad Fathi.

Menurutnya, penerbangan sekitar 10 jam menuju Tanah Suci merupakan ujian awal bagi kesehatan jantung dan paru-paru jemaah. Karena itu, jemaah diminta menjaga kondisi tubuh dan cukup beristirahat selama perjalanan udara.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI