PBB Desak Israel Segera Hentikan Tindakan Genosida di Gaza
SinPo.id - PBB kembali mendesak Israel untuk menghentikan tindakan genosida di Gaza dan menyampaikan kekhawatiran atas pembersihan etnis di seluruh wilayah Palestina, termasuk Tepi Barat yang diduduki.
Berdasarkan laporan terbaru terkait penyelidikan atas perilaku militer Israel dalam perang di Gaza, Kantor Hak Asasi Manusia PBB menyimpulkan bahwa Israel telah berulang kali melakukan pelanggaran serius.
"Israel telah melakukan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, yang dalam banyak kasus mungkin merupakan kejahatan perang dan kejahatan kekejaman lainnya," kata laporan PBB, dilansir dari Al Jazeera, Selasa, 19 Mei 2026.
Bahkan hasil investigasi, termasuk yang dilakukan oleh PBB dan Asosiasi Cendekiawan Genosida Internasional, menyebut perang Israel di wilayah Gaza sebagai bentuk genosida, karena hampir 73.000 orang dilaporkan tewas oleh Kementerian Kesehatan Gaza.
"Meskipun tentara Israel berupaya untuk mengembalikan sandera dan beberapa serangan mengenai sasaran militer Gaza, sebagian besar pembunuhan ini melanggar hukum," ungkapnya.
Selain itu, para pengamat konflik juga memperingatkan bahwa sejak gencatan senjata dengan Iran disepakati bulan lalu, pemboman Israel terhadap Jalur Gaza telah meningkat, dan serangan kekerasan oleh para pemukim ilegal di Tepi Barat juga meningkat.
Oleh sebab itu, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, menyerukan kepada Israel untuk mencegah terjadinya tindakan genosida, dan memastikan semua pengungsi Palestina kembali ke rumah mereka dengan aman.
Sementara kepala Hak Asasi Manusia PBB di wilayah Palestina yang diduduki, Ajith Sunghay, menegaskan gencatan senjata di Gaza belum menghasilkan jaminan yang pasti bahwa Israel tidak akan lagi menduduki wilayah Palestina, termasuk jaminan untuk menghentikan kekerasan di Tepi Barat.
“Pasukan militer dan polisi Israel serta para pemukim membunuh semakin banyak warga Palestina tanpa hukuman, seringkali bersama-sama. Impunitas hanya akan memicu terulangnya kekerasan,” kata Sunghay.
