Tinjau Industri Belarus, Airlangga Jajaki Kemitraan Sektor Alat Berat hingga Teknologi Pertanian

Laporan: Tio Pirnando
Jumat, 15 Mei 2026 | 14:38 WIB
Menko Airlangga meninjau perusahaan teknologi pertanian di Belarus (SinPo.id/ Dok. Ekon)
Menko Airlangga meninjau perusahaan teknologi pertanian di Belarus (SinPo.id/ Dok. Ekon)

SinPo.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga mengatakan, Indonesia sedang berusaha menjajaki kerja sama sejumlah sektor, baik industri alat berat, kendaraan komersial, dan mekanisasi pertanian modern, dengan Belarus. 

Dalam rangkaian acara Pertemuan Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 RI–Belarus, Airlangga pun mengunjungi perusahaan Minsk Tractor Works (MTZ), MAZ (Minsk Automobile Plant), dan BelAZ Holding Management Company. 

"Ketiga perusahaan tersebut merupakan bagian penting dari basis industri manufaktur Belarus yang dikenal memiliki keunggulan dalam produksi alat berat, kendaraan komersial, serta teknologi dan mekanisasi pertanian modern," kata Airlangga dalam keterangannya, Jumat, 15 Mei 2026. 

Airlangga menyampaikan, penjajakan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan tersebut sejalan dengan salah satu Asta Cita Presiden Prabowo, yaitu mewujudkan ketahanan pangan nasional. Untuk itu, modernisasi pertanian dan tersedianya alat berat yang efisien menjadi faktor yang sangat krusial.

Airlangga menyampaikan, Belarus memiliki basis industri manufaktur yang kuat dengan kontribusi sektor manufaktur mencapai sekitar 20,3 persen terhadap PDB nasional pada tahun 2024. Belarus juga dikenal memiliki keunggulan dalam pengembangan agro-industri dan mekanisasi pertanian yang mendukung ketahanan pangan nasional, termasuk tingkat swasembada pangan yang mencapai sekitar 96 persen. 

Pada kunjungan ke MTZ (Minsk Tractor Works), Airlangga meninjau pengembangan teknologi traktor dan alat-alat mesin pertanian yang berpotensi mendukung agenda ketahanan pangan dan modernisasi pertanian Indonesia, termasuk pengembangan food estate dan peningkatan produktivitas pertanian nasional. 

MTZ meyakinkan bahwa semua alat berat dan mesin bisa disesuaikan dengan kebutuhan pemesan. Selain itu, MTZ juga menawarkan pelatihan dan transfer teknologi untuk mendukung kerjasama tersebut. Pertemuan dengan KADIN juga telah dilakukan untuk melakukan pembicaraan awal mengenai kerja sama di industri alat berat.

Sementara itu, kunjungan ke MAZ (Minsk Automobile Plant), difokuskan pada potensi kerja sama pengembangan kendaraan komersial, bus, dan kendaraan khusus industri, termasuk peluang local assembly, transfer teknologi, dan pengembangan kendaraan rendah emisi.

Berikutnya pada kunjungan ke BelAZ Holding Company, kedua pihak membahas potensi penguatan kerja sama di sektor alat berat pertambangan, termasuk pengembangan maintenance ecosystem, local assembly, serta peluang kerja sama rantai pasok ban kendaraan berat berbasis natural rubber Indonesia.

"Kami melihat perusahaan-perusahaan Belarus berpengalaman dalam memproduksi berbagai macam produk alat berat, terutama yang dapat memperkuat industrialisasi, mekanisasi pertanian modern, serta pengembangan industri alat berat di Indonesia," kata Airlangga.

Dalam diskusi lebih lanjut, turut dibahas mengenai pengembangan cassava menjadi ethanol dan studi terkait penggunaan baterai nikel untuk mendukung modernisasi pertanian.

Di sektor pertambangan, penggunaan baterai nikel pada truk telah diaplikasikan untuk meningkatkan efisiensi, keberlanjutan, dan kinerja kendaraan berat di sektor industri. 

Indonesia sendiri mengekspor sekitar 800 juta ton batu bara setiap tahunnya. Sehingga kebutuhan dump truck untuk pertambangan yang efisien dan berkelanjutan menjadi prioritas yang penting.

Pemerintah Belarus selama ini terus mempelajari berbagai kebutuhan alat berat di Indonesia, namun informasi mengenai kebutuhan spesifik dari Indonesia masih relatif sulit didapatkan. Untuk mengatasi ini, perlu dilakukan pemetaan kebutuhan secara bersama, forum konsultasi reguler, serta peningkatan komunikasi antara pelaku industri dan pemerintah kedua negara. 

"Langkah ini akan membantu memastikan bahwa produk dan solusi yang ditawarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan," kata Airlangga. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI