Teknologi Hidrotermal Disebut Pangkas Pengolahan Sampah Pasar

Laporan: Sigit Nuryadin
Selasa, 12 Mei 2026 | 09:32 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (Foto: SinPo.id/Pemprov DKI Jakarta)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (Foto: SinPo.id/Pemprov DKI Jakarta)

SinPo.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengeklaim teknologi hidrotermal mampu memangkas waktu pengolahan sampah organik di pasar tradisional dari tujuh hingga 10 hari menjadi sekitar dua jam. Teknologi tersebut mulai diuji coba di Pasar Area 7 Kramat Jati, Jakarta Timur.

Pramono meninjau langsung pengolahan sampah organik itu pada Senin, 11 Mei 2026. Menurut dia, teknologi hidrotermal menjadi salah satu strategi Pemprov DKI untuk mempercepat pengelolaan sampah dari sumber sekaligus mengurangi beban sampah ke TPST Bantargebang.

“Dengan teknologi hidrotermal, waktu pengolahan sampah dapat dipangkas menjadi sekitar dua jam untuk setiap batch," kata Pramono dalam keterangan resminya, dikutip Selasa, 12 Mei 2026.

"Ini merupakan inovasi yang sangat baik karena mampu mempercepat proses pengolahan sekaligus menghasilkan produk yang bernilai ekonomis,” kata Pramono dalam peninjauan tersebut," sambungnya. 

Dia mengungkapkan, teknologi hidrotermal bekerja menggunakan uap panas bertekanan tinggi untuk mengurai sampah organik tanpa proses pembakaran. Menurutnya, dari hasil uji coba pada April 2026, sebanyak 1.708,1 kilogram sampah organik diolah menjadi 936 liter pupuk cair. 

"Adapun residu padat hasil pengolahan dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam dan pupuk organik," tutur dia. 

Lebih jauh, Pramono juga menyebut efisiensi pengolahan dengan metode tersebut mencapai 80 kali lebih cepat dibandingkan metode konvensional. 

“Capaian ini menunjukkan bahwa inovasi pengelolaan sampah dapat memberikan hasil nyata dan terukur,” ujar Pramono. 

Adapun Pasar Kramat Jati dipilih karena menjadi salah satu pasar dengan produksi sampah organik terbesar di Jakarta. Pasar itu memiliki 1.803 tempat usaha dan menghasilkan sekitar enam ton sampah per hari. Sekitar 75 hingga 80 persen di antaranya berupa sampah organik seperti sisa sayuran, buah, daun, dan makanan.

Menurut Pramono, pengelolaan sampah di pasar tidak bisa lagi hanya mengandalkan pengangkutan ke tempat pemrosesan akhir. Dia mengatakan pasar tradisional harus ikut berperan dalam pengurangan sampah kota.

“Pengolahan sampah organik menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pasar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Kami ingin pasar-pasar di Jakarta tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga menjadi ruang publik yang nyaman dan ramah lingkungan,” katanya.

Dia menambahkan, peninjauan itu juga menjadi bagian dari tindak lanjut Gerakan Pilah Sampah yang dimulai pada 10 Mei 2026. Pramono menuturkan, keterlibatan pedagang, pengelola pasar, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam pengelolaan sampah dari sumber.

“Gerakan pilah sampah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pengelolaan sampah dari sumber menjadi langkah penting agar permasalahan sampah di Jakarta dapat ditangani secara lebih efektif,” tandasnya. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI