Irjen Kemenhaj Apresiasi Layanan Haji 2026, Konsumsi Jadi Sorotan Positif

Laporan: Tim Redaksi
Sabtu, 09 Mei 2026 | 17:17 WIB
Kedatangan Gelombang Kedua Jemaah Haji Indonesia di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah (SinPo.id/ Kemenhaj RI)
Kedatangan Gelombang Kedua Jemaah Haji Indonesia di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah (SinPo.id/ Kemenhaj RI)

SinPo.id - Inspektur Wilayah II Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Haji dan Umrah RI, Ade Muhtar, mengapresiasi kualitas pelayanan terhadap jemaah haji Indonesia usai melakukan peninjauan langsung ke sektor layanan di Madinah.

Dari hasil pemantauan, layanan konsumsi disebut menjadi aspek yang paling mendapat respons positif dari para jemaah.

Ade Muhtar tiba di Madinah dan meninjau langsung akomodasi serta layanan konsumsi jemaah haji Indonesia, termasuk menerima laporan dari Kepala Sektor 1 Daerah Kerja Madinah, Ramlan Sudarto, terkait operasional layanan dan proses pergeseran jemaah dari Madinah menuju Makkah.

“Alhamdulillah kita menemukan bahwa pelaksanaan yang selama ini disampaikan bagus, memang kita sama-sama saksikan telah berjalan dengan baik,” ujar Ade Muhtar saat kunjungan ke Sektor 1 Madinah, Jumat, 8 Mei 2026 sore waktu setempat.

Meski demikian, Ade mengakui masih terdapat tantangan dalam operasional haji, khususnya saat proses pendorongan atau pergeseran jemaah ke Makkah yang berlangsung padat. Pada hari yang sama, Sektor 1 Madinah harus memberangkatkan sebanyak 13 kelompok terbang (kloter) secara bersamaan.

Kondisi tersebut, kata dia, membutuhkan kesiapan sumber daya manusia yang memadai, baik dari petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) maupun tenaga umal atau porter di lapangan.

Namun demikian, Ade mengapresiasi kesiapan petugas PPIH yang telah menjalani pelatihan intensif selama hampir satu bulan di Indonesia sebelum bertugas di Arab Saudi.

Dalam peninjauan itu, layanan konsumsi disebut menjadi nilai plus tertinggi berdasarkan respons jemaah.

Menurut Ade, kebijakan pemberdayaan UMKM serta penggunaan bumbu dan pasta asal Indonesia berhasil menghadirkan cita rasa makanan yang dekat dengan lidah jemaah.

“Konsumsi dengan adanya kita memberdayakan terutama UMKM kemudian penyedia bumbu dari tanah air, mereka merasakan cita rasa menu nusantara, merasa di rumahnya sendiri. Tidak kekurangan, mereka merasa puas,” katanya.

Ade menegaskan pihaknya akan terus melakukan evaluasi dan peningkatan kualitas layanan menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Masukan dari berbagai pihak, termasuk media, disebut akan disampaikan kepada Menteri dan Wakil Menteri Haji dan Umrah sebagai bahan evaluasi.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, Prof Jaenal Effendi, juga menyebut layanan konsumsi menjadi salah satu aspek paling diapresiasi jemaah Indonesia.

Menurut dia, penggunaan bumbu khas Nusantara mampu menghadirkan rasa makanan yang lebih akrab bagi jemaah selama berada di Tanah Suci.

“Animonya sangat luar biasa, masyarakat jemaah haji kita itu sangat bahagia bisa merasakan cita rasa Indonesia, nusantara yang ada di sini,” ujar Jaenal.

Apresiasi terhadap layanan haji juga datang langsung dari para jemaah. Lila Kholilah, jemaah asal Indramayu, Jawa Barat, mengaku puas dengan fasilitas hotel dan makanan selama berada di Madinah.

“Untuk makanan alhamdulillah kita suka, enak. Kamar juga alhamdulillah bersih, kamar mandi juga sudah cukup memuaskan,” kata Lila saat diwawancarai di sekitar Masjid Nabawi, Madinah.

Ia juga menilai lokasi hotel cukup strategis karena dekat dengan Masjid Nabawi. Tahun ini, sebanyak 118 hotel untuk jemaah Indonesia ditempatkan di kawasan Markaziyah atau berada dalam area Ring Road yang berjarak dekat dengan masjid.

Kepuasan serupa diungkapkan Renah, jemaah asal Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Menurut dia, pelayanan hotel dan konsumsi selama di Madinah sangat memuaskan.

“Alhamdulillah pelayanan hotel luar biasa mantap. Kondisinya juga bagus dan nyaman sehingga harapannya dengan kenyamanan ini kami semua bisa sehat-sehat selama di sini,” ujar Renah.

Ia menambahkan, makanan yang disediakan selama di Madinah juga dinilai aman dan sesuai dengan selera jemaah Indonesia.

“Alhamdulillah cocok. Makanan terjamin, aman, dan kondusif,” katanya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI