Epidemiolog Sebut Kemunculan Hantavirus di Kapal Pesiar Bukan Tiba-tiba
SinPo.id - Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), Laura Navika Yamani mengatakan, kemunculan klaster dugaan hantavirus di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar MV Hondius, bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Kondisi ini lebih mengarah pada kemungkinan paparan awal sebelum perjalanan atau saat individu berada di wilayah dengan reservoir hewan pengerat.
"Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu. Sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi," kata Laura dalam keterangannya, Sabtu, 9 Mei 2026.
Menurut Laura, mobilitas lintas negara dalam perjalanan laut berpotensi memperluas jangkauan deteksi kasus tanpa menunjukkan lokasi infeksi awal secara langsung.
Dia menguraikan, hantavirus menular melalui paparan partikel yang berasal dari urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan tidak memerlukan kontak langsung, melainkan cukup melalui inhalasi partikel yang terkontaminasi. Kondisi ini membuat aktivitas di lingkungan dengan populasi hewan pengerat tinggi berisiko meningkatkan infeksi.
Dan, sebagian besar hantavirus tidak menunjukkan transmisi antarmanusia. Namun, beberapa strain tertentu seperti Andes virus memiliki kemampuan terbatas untuk menular antarmanusia.
Karenanya, investigasi epidemiologi dan analisis genomik tetap menjadi langkah penting untuk memastikan pola penularan yang terjadi.
Selain itu, perubahan lingkungan seperti iklim dan pergeseran habitat hewan juga ikut memengaruhi distribusi reservoir penyakit.
"Aktivitas manusia di wilayah baru dan meningkatnya ekowisata memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu," ujarnya.
Dari sisi klinis, lanjut Laura, hantavirus memiliki gejala awal yang tidak spesifik, seperti demam, kelelahan, dan gangguan gastrointestinal. Kondisi ini dapat berkembang cepat menjadi pneumonia berat. Kemudian berlanjut ke Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), hingga syok. Pada fase ini, pasien membutuhkan penanganan intensif di fasilitas kesehatan.
Ia menambahkan, bentuk berat infeksi hantavirus, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi.
"Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30–50 persen. Terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat," paparnya.
Lebih lanjut, Laura menekankan pentingnya deteksi awal dan penguatan sistem surveilans kesehatan, termasuk surveilans genomik, untuk memahami pola penyebaran virus. Ia juga mendorong penerapan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Kemudian, penguatan sanitasi, pemantauan gejala, serta komunikasi risiko yang efektif, menjadi kunci dalam mencegah penyebaran.
"Dalam era mobilitas global yang semakin tinggi, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini sangat diperlukan untuk mencegah eskalasi kasus serupa di masa depan," tandasnya.

