BPIP Gelar Agenda Penguatan Pendidikan Pancasila di Sleman

Laporan: Tim Redaksi
Kamis, 07 Mei 2026 | 14:46 WIB
Kepala BPIP, Yudian Wahyudi (Sinpo.id/tim media)
Kepala BPIP, Yudian Wahyudi (Sinpo.id/tim media)

SinPo.id -  Pendidikan Pancasila di sekolah kini tidak lagi hanya soal menghafal butir-butir sila, melainkan tentang bagaimana nilai-nilai tersebut dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini ditegaskan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam agenda penguatan Buku Teks Utama (BTU) Pendidikan Pancasila di Kabupaten Sleman, Rabu, 7 Mei 2026.

Langkah ini merupakan bagian dari misi besar menuju Indonesia Emas 2045, dengan fokus mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki karakter moral yang kuat.

Kepala BPIP, Yudian Wahyudi menjelaskan bahwa Pancasila harus menjadi kompas hidup bagi setiap warga negara.

"Pancasila merupakan ‘meja statis’ yang mewadahi berbagai keberagaman, sekaligus menjadi jiwa bangsa dan pedoman hidup bersama untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur," ujarnya.

Kabar baik bagi para orang tua dan guru, buku teks utama yang kini mulai diterapkan memiliki pendekatan yang sangat berbeda. Jika dulu pendidikan kewarganegaraan didominasi oleh teori, buku baru ini dirancang agar lebih aplikatif.

“Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, BTU memadukan 30 persen aspek pengetahuan dan 70 persen praktik aktualisasi. Dengan demikian, Pancasila tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga dibiasakan dalam perilaku sehari-hari untuk membentuk karakter pancasilais,” jelas Kepala BPIP.

Sebanyak 24 judul buku untuk jenjang SD hingga SMA telah dirampungkan oleh BPIP bersama Kemendikbudristek. Kehadiran buku ini juga sekaligus mengisi kekosongan materi sejarah kelahiran Pancasila yang sempat vakum sejak era Reformasi 1998.

Pemerintah Kabupaten Sleman menyambut hangat inisiatif ini. Mewakili Bupati Sleman, Wakil Bupati Danang Maharsa, S.E., menyampaikan bahwa penguatan karakter ini sangat relevan dengan kearifan lokal masyarakat Sleman yang kental dengan budaya gotong royong.

“Masyarakat berkarakter Pancasila adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai ‘Manunggaling Kawula lan Gusti’ sebagai harmoni antara pemimpin dan rakyat, yang diwujudkan melalui semangat gotong royong, toleransi, saling menghormati, serta cinta tanah air,” tutur Danang.

Dengan adanya buku teks ini, para guru di Sleman diharapkan dapat menjadi pendamping yang efektif bagi siswa untuk menumbuhkan sikap toleransi dan kepedulian sosial sejak dini.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI