Kemenhaj Catat Jemaah Haji Wafat Bertambah jadi 10 0rang, Ini Penyebabnya

Laporan: Sigit Nuryadin
Rabu, 06 Mei 2026 | 19:44 WIB
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Suci Annisa (Foto: SinPo.id/Kemenhaj)
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Suci Annisa (Foto: SinPo.id/Kemenhaj)

SinPo.id - Kementerian Haji dan Umrah melaporkan tambahan satu jemaah haji Indonesia yang wafat pada Selasa, 5 Mei 2026. Dengan demikian, total kematian jemaah selama operasional haji 1447 Hijriah/2026 Masehi kini mencapai 10 orang. Mayoritas penyebab kematian berkaitan dengan penyakit kardiovaskular dan gangguan pernapasan.

Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Suci Anisa, mengatakan jemaah yang wafat terbaru adalah A.N. Soleh Salimar, perempuan asal Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang tergabung dalam kloter CKS05.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, kami menyampaikan duka cita yang mendalam,” kata Suci dalam keterangan resmi, Rabu, 6 Mei 2026.

Menurutnya, penyebab kematian yang paling banyak terjadi di antara jemaah adalah penyumbatan pembuluh darah ke jantung serta radang paru-paru. Pemerintah, kata Suci, berupaya menekan risiko dengan memastikan layanan kesehatan berjalan optimal di seluruh lini.

“Kami terus memastikan layanan kesehatan berjalan optimal, baik melalui pos kesehatan kloter, sektor maupun fasilitas Klinik Kesehatan Haji Indonesia dan rumah sakit rujukan di Arab Saudi,” ungkap dia.

Di tengah catatan kematian tersebut, lanjut Suci, pemerintah juga menyoroti penguatan layanan bimbingan ibadah bagi jemaah. Hingga saat ini, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Madinah telah menerima 29.497 izin masuk Raudhah (tasreh), dengan 341 izin terbit pada 5 Mei 2026.

Ia mengimbau jemaah untuk memanfaatkan aplikasi Nusuk guna mengakses layanan masuk ke Raudhah di Masjid Nabawi sesuai jadwal.

"Selain itu, bimbingan ibadah juga diperkuat melalui konsultasi umrah sunnah, pendampingan jemaah termasuk yang sakit sebelum keberangkatan ke Makkah, serta edukasi langsung di sektor dan fasilitas kesehatan," kata Suci.

Suci menegaskan bahwa pendekatan ini dilakukan untuk memastikan jemaah tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga mendapatkan pendampingan ibadah secara optimal menjelang puncak pelaksanaan haji.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI