Duka Beruntun Dokter Internship, Pakar Soroti Beban Kerja Berlebih
SinPo.id - Kabar wafatnya dokter Myta Aprilia Azmy yang bertugas sebagai dokter magang atau internship di RSUD KH Daud Arif, Jambi, menambah kesedihan publik. Dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya ini sempat dilaporkan bekerja selama tiga bulan tanpa libur.
"Sebelumnya, sejak Februari 2026 sudah ada tiga orang dokter internship lain juga yang meninggal. Jadi total ada empat yang wafat. Kita tentu amat bersedih dengan kejadian wafatnya 4 orang dokter yang sedang menjalani Program Internship ini," kata Ketua Majelis Kehormatan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof Tjandra Yoga Aditama, Senin, 4 Mei 2026.
Guru Besar Kedokteran Universitas YARSI ini menjelaskan, internship adalah suatu program penempatan wajib sementara bagi lulusan baru sebagai tahap transisi dari pendidikan akademik menuju praktik profesional.
Namun, wafatnya dokter tersebut membuat duka mendalam bagi sesama sejawat, termasuk masyarakat luas. Apalagi, yang wafat ini sampai empat orang.
"Yang wafat tidak akan bisa kembali, keluarga dan kerabat serta dunia kedokteran Indonesia amat berduka," ucapnya.
Di sisi lain, lanjut Adjunct Professor Griffith University Australia ini, Indonesia disebut kekurangan dokter. Jika keempat dokter tersebut dilindungi dengan baik, tentu akan bermanfaat bagi pelayanan kesehatan masyarakat.
"Nah, kita tentu jadi amat bersedih karena di awal karier nya ke empat dokter internship ini harus kehilangan nyawa mereka. Padahal kalau mereka dilindungi dengan baik maka akan memberi peran dalam pelayanan kesehatan di negara kita," tuturnya.
Yang lebih menyedihkan lagi, kata Prof Tjandra, wafatnya keempat dokter dihubungkan dengan kerja mereka dalam menjalankan program internship. Padahal, program ini seharusnya membuat seseorang menjadi dokter profesional di lapangan, tetapi malah merenggut nyawanya.
Lebih lanjut, Prof Tjandra mengutip jurnal internasional Medscape pada 24 April 2026, yang menurunkan artikel berjudul "The Health Worker Paradox: When Caregivers Become Patients." Dalam jurnal tersebut ditunjukkan bahwa beratnya tugas dan tantangan kerja dokter, antara lain jam kerja yang amat panjang, tugas jaga malam, tekanan dalam pekerjaan, dan lain-lain. Hal ini membuat kerja para dokter dapat berdampak buruk pada kesehatan mereka sendiri.
Jurnal itu juga melaporkan tentang suasana kerja para dokter yang dapat menimbulkan stres yang tinggi dan kelelahan berkepanjangan (burnout).
Keadaan ini akan berhubungan dengan kemungkinan terjadinya gangguan kesehatan fisik dan mental serta menurunkan kualitas hidup, apalagi jika sistem kerja tidak mendukung atau malah sebaliknya menekan para dokter dalam kerjanya.
"Selain yang tertulis di artikel terbaru ini maka harus diingat bahwa para dokter internship kita masih muda-muda sehingga dianggap yunior di lingkungannya. Selain itu, mereka jelas punya beban untuk menyelesaikan program internship sebagai salah satu syarat untuk kemudian dapat berprofesi selanjutnya sebagai dokter di masyarakat. Jadi mereka jelas memerlukan selesainya program internshipnya walau apapun tantangan yang dihadapi, " tuturnya.
Untuk itu, Prof Tjandra berharap agar pemangku kebijakan perlu memperhatikan tiga aspek penting dalam program. Pertama, program untuk penjaminan mutu dan kesiapan dokter sebelum praktik mandiri. Kedua, penentu kebijakan harus memberikan perlindungan agar dokter internship dapat melakukan tugasnya dengan baik tanpa tekanan fisik dan mental yang tidak perlu. Ketiga, selama menjalankan tugas internship maka para dokter ini juga perlu terjamin kehidupannya, jangan sampai terlantar.
"Wafatnya empat orang dokter internship kita harus menjadi momentum untuk membuat program yang lebih baik, lebih bermutu, lebih manusiawi dan lebih bermartabat," tandasnya.
